Saturday, January 15, 2022

𝗛𝗔𝗕𝗟𝗨 𝗠𝗜𝗡𝗔𝗟𝗟𝗔𝗛, 𝗛𝗔𝗕𝗟𝗨 𝗠𝗜𝗡𝗔𝗡𝗡𝗔𝗦

Hakikat beradab dan berakhlak itu dua. Satu berakhlak dengan Allah سبحانه وتعالى dan satu berakhlak dengan makhluk.

Ada orang akhlaknya dengan Allah سبحانه وتعالى baik, adabnya bagus tetapi dengan manusia dia mengumpat orang, berdusta dan lainnya. Dengan Allah سبحانه وتعالى dia rajin beribadah, membaca Al-Quran 3 hari sekali khatam, tetapi hatinya dengki pada orang.

Itu tidak lagi dianggap berakhlak baik, kerana maksud daripada akhlak yang baik itu, baik kepada Allah سبحانه وتعالى dan baik kepada manusia.

Hakikat seorang yang berakhlak itu, adalah berakhlak kepada Allah سبحانه وتعالى dan juga berakhlak kepada makhluk.

[ Syeikh Ahmad Fahmi Zamzam AlBanjari AnNadwi AlMaliki حفظه الله ]


MEMANDANG GURU

As-Sayyid al-'Allamah Syihabuddin al-Akbar Ahmad bin Abdurrahman bin Asy-Syeikh Ali As-Sakran Ba'alawi رحمة الله تعالى mengatakan ;

"Barang siapa yang memandang guru-gurunya dengan pandangan 'Ishmah (mustahil bersalah seperti para Nabi), maka ia terhalang dari keberkahan mereka.

Dan barangsiapa yang yang memandang mereka dengan pandangan Ta'dzhim (penghormatan dan pengagungan), maka ia akan diberikan keberkahan mereka dan diikutkan (dikumpulkan) dengan mereka meskipun amal mereka belum seperti amal mereka."

[ Kitab - Masyro'urrowi, 2/140 ] 


Friday, January 14, 2022

Aku malu kepada Allah...

Suatu hari, Saidina Umar bin Ubaidulllah melalui sebuah kebun. Tiba-tiba, beliau terlihat seorang lelaki berkulit hitam sedang makan.
Ada seekor anjing duduk dihadapan lelaki itu. Setiap kali dia menyuap sepotong makanan ke mulutnya, dia melemparkan sepotong makanan kepada anjing tersebut.

Umar berasa sangat takjub. Beliau bertanya kepadanya,

"Adakah anjing ini kepunyaan kamu?"

Jawab lelaki itu,

"Bukan."

Ditanya kembali oleh Umar,

"Jadi, mengapa engkau memberinya makanan?"

Dia menjawab,

"Aku malu jika seekor makhluk Allah memandangku apabila aku sedang makan, namun aku tidak memberinya makanan."

Umar bertanya lagi,

"Kamu hamba atau merdeka?"

Lelaki itu menjawab,

"Hamba milik seorang Bani Asim."

Umar pergi menemui pemilik hamba tersebut. Beliau membeli hamba itu beserta kebun tempatnya bekerja. Beliau kembali menemui lelaki tersebut dan berkata,

"Allah telah memerdekakan dirimu. Dan memberikan kebun ini untukmu."

Lelaki itu berkata,

"Segala puji bagi Allah. Saya bersaksi bahawa kebun ini saya wakafkan kepada orang fakir yang ada di negeri ini."

Umar sangat terkejut. Beliau tidak menyangka tindakan lelaki itu menyedekahkan kebun tersebut.

Beliau bertanya,

"Mengapa engkau mewakafkan kebun ini? Bukankah engkau juga miskin dan memerlukan harta?"

Dia berkata,

"Aku malu kepada Allah yang telah bermurah hati kepadaku, kemudian aku kedekut pula kepada-NYA "

"Selama hidup di dunia ini, yang terbaik itu adalah menyelamatkan hati dari berburuk sangka terhadap makhluk yang lain."


CEMAS TERHADAP REZEKI PETANDA RUSAKNYA HATI

Nasehat Quthb Al-Irsyad wal Bilad Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad رضى الله عنه :

"Wahai para murid, jadilah engkau seseorang yang berprasangka baik terhadap Tuhanmu, bahwa Dia akan melindungi, mencukupi, menjaga, memelihara dan tidak akan meninggalkan dirimu sendiri atau meninggalkanmu pada salah satu makhluk-Nya. Sesungguhnya Allah yang Maha Suci telah memberi tahu bahwa Dia bersama prasangka hamba terhadap-Nya. Oleh karena itu, keluarkan dari dalam hatimu rasa takut akan kemiskinan atau butuh terhadap manusia.

Hati-hatilah kamu dari perasaan cemas terhadap masalah rezeki. Jadilah orang yang percaya pada janji Tuhanmu dan jaminan-Nya bagimu, ketika Allah سبحانه وتعالی berfirman, “Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi, melainkan Allah-lah yang memberi rezeki.” ( Q.S Hud [11]: 6 )
Kamu termasuk makhluk melata maka sibukkanlah dirimu dengan permintaan-Nya, yaitu amal-amalmu untuk-Nya.

Adapun sesuatu yang telah dijamin oleh-Nya, yaitu rezeki maka sekali-sekali Tuhan tidak akan melupakanmu dalam masalah ini. Dia telah memberi tahumu bahwa sesungguhnya rezeki ada di sisi-Nya dengan beribadah kepada-Nya. Allah 
سبحانه وتعالی berfirman, “Maka mintalah rezeki dari sisi Allah, dan sembahlah Dia serta bersyukurlah kepada-Nya,” ( QS. Al-Ankabut [29]:17 ).

Apakah kamu tidak melihat bahwa Dia yang Maha Suci memberi rezeki kepada orang-orang kafir yang menyembah selain-Nya? Apakah menurut pendapatmu Dia tidak akan memberi rezeki-Nya kepada orang-orang yang beriman yang tidak menyembah selain Dia? Dia memberi rezeki kepada orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya dan melanggar perintah-perintah-Nya. Apakah Dia tidak akan memberi rezeki kepada orang-orang yang taat kepada-Nya, memperbanyak dzikir, dan bersyukur kepada-Nya?

Ketahuilah, sesungguhnya tidak menjadi masalah jika kamu bergerak mencari rezeki selama melakukannya dengan cara yang dibolehkan oleh syari’at Islam. Akan tetapi, yang menjadi masalah adalah jika hati tidak dapat tenang, fikiran, kesenangan dan kegelisahannya disebabkan persoalan rezeki.

Tanda-tanda rusaknya hati seseorang adalah jika ia mencemaskan kebutuhannya pada masa yang belum terjadi, seperti hari dan bulan yang akan datang. Dan juga ucapannya, “Jika ini habis, apakah mungkin datang selain ini? Jika rezeki tidak datang dengan cara ini, dari mana lagi akan datang rezeki?"

Masalah melepaskan diri dari penyebab dan keterikatan dengan sebab, merupakan dua kedudukan yang diberikan oleh Allah kepada Hamba-hamba-Nya yang dikehendaki. Seseorang yang berada pada kedudukan lepas dari sebab-sebab maka ia harus memiliki keyakinan yang kuat, dada yang lapang dan selalu senantiasa beribadah. Adapun seseorang yang diletakkan oleh Allah pada kedudukan terikat dengan sebab-sebab maka ia harus bertakwa kepada Allah pada kehidupannya dan bersandar kepada Allah, tidak selain-Nya.

Hati-hatilah dari kesibukkan atas rezeki dan melupakan perbuatan taat kepada-Nya. Kadang-kadang muncul pada seorang murid lintasan-lintasan tentang kecemasan masalah rezeki atau sifat beramal karena menginginkan pujian makhluk dan lain-lainnya. Hal seperti itu bukanlah merupakan suatu yang hina atau berdosa bila ia membencinya dan berusaha menghilangkan dari hatinya."

Sumber Kitab : Adab Suluk al-Murid karya Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّم وبَارِك عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، الفاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ، والخاتِم لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الحقِّ بَالحَقِّ، والهادي إلى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ، صلَّى اللهُ علَيهِ وآلِهِ وصحبِهِ، حَقَّ قَدْرِهِ ومِقْدَارِهِ العَظِيم.


Saturday, October 9, 2021

RENUNGLAH SELALU HATI KITA

Renunglah selalu hati kita. Kerana ia merupakan sumber kebaikan dan kejahatan. Wadah kekufuran dan keimanan. Rebutan di antara malaikat dan syaitan.

Hati perasaannya halus. Sentuhannya tiada terasa. Tapi sangat memberi kesan di dalam kehidupan kita. Siapa yang arif perjalanan hatinya. Faham kebaikan dan kejahatannya. Bersungguh-sungguh bermujahadah membuang kejahatannya. Diganti segera dengan kebaikan, orang itu akan selamat dari tipu daya syaitan dan dunia.

Ramai orang tidak faham perjalanan hatinya, sekalipun ulama (ulama dunia). Terima sahaja yang baik dan yang buruknya. Kemudian merasakan baik semuanya. Tiada terasa lagi membuat dosa. Di sinilah perlu pimpinan guru mursyid yang mengenal hati manusia.


Saturday, September 11, 2021

Mutiara Kata Imam Dzun Nun Al Misri

Berkata Imam Dzun Nun Al Misri رحمة الله تعالى ;

“Hendaknya kamu belajar bersama orang yang dengan melihatnya mengingatkan dirimu kepada Allah. Kamu memiliki rasa segan kepadanya di dalam hatimu.

Orang yang pembicaraannya menambah ilmumu. Orang yang tingkah lakunya membuatmu semakin zuhud kepada dunia. Kamu pun tidak mahu bermaksiat kepada Allah selama sedang berada di sisinya.

Dia memberikan nasihat kepadamu dengan perbuatannya, tidak dengan ucapannya semata.”


ADAB BERSAHABAT

Hujjatul Islam Al-Imam Al-Ghazali رحمة الله تعالى telah menyenaraikan adab-adab bersahabat di dalam kitabnya Bidayatul Hidayah, antaranya :

1. Melebihkan sahabatnya itu dengan hartanya (apa yang dimiliki). Sepertimana dia berkehendakkan sesuatu kebaikan untuk dirinya, begitu jugalah yang dia harapkan buat sahabatnya (mendapat kebaikan yang sama).

2. Memberikan hartanya padahal dirinya berhajat kepada harta itu.

3. Menghulurkan bantuan kepada sahabatnya walaupun tanpa diminta.

4. Menyembunyikan akan rahsia sahabatnya.

5. Menutup aib sahabatnya.

6. Apabila terdengar celaan seseorang kepada sahabatnya, tidak disampaikan celaan tersebut kepada sahabatnya itu. Apabila diketahui sahabatnya dicela, maka janganlah ia sesekali mendengar celaan itu.

7. Apabila diketahui sahabatnya dipuji, maka hendaklah ia menyampaikan pujian tersebut kepada sahabatnya itu.

8. Hendaklah memberi perhatian kepada sahabatnya tatkala ia berbicara.

9. Menghindarkan diri dari berbantah-bantah dengan sahabatnya.

10. Apabila melihat kebajikan yang dibuat oleh sahabatnya, maka hendaklah ia memuji akan sahabatnya.

11. Menegah orang yang sedang mencela sahabatnya walaupun ketika ketiadaan sahabatnya.

12. Memberi nasihat dan teguran kepada sahabat apabila diminta.

13. Memaafkan segala kesalahan sahabatnya itu dan tidak mencacinya atas kesalahan yang telah dilakukan.

14. Sentiasa mendoakan kebaikan kepada sahabat sama ada yang masih hidup atau telah mati.

15. Hendaklah membuat kebajikan kepada sahabatnya dan kepada keluarganya apabila dia telah meninggal dunia.

16. Tidak memberati akan sahabatnya itu daripada suatu hajatnya supaya senang hati sahabat itu dari kesusahan.

17. Mendahului memberi salam ketika berjumpa sahabatnya.

18. Memuliakan akan sahabatnya itu akan segenap hal kebaikan.

19. Apabila sahabatnya berkata, hendaklah dia mendengar sehingga selesai sahabatnya berkata, sesudah itu barulah dia berkata.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib كرم الله وجهه berkata :
"Saudaramu yang sebenar ialah orang yang sentiasa berada di sisimu (ketika susah dan senang). Dia sanggup membahayakan dirinya demi kebaikanmu, dan sanggup berkorban apa sahaja untuk kepentinganmu."