Showing posts with label Tausiyah. Show all posts
Showing posts with label Tausiyah. Show all posts

Friday, November 8, 2024

BERSABARLAH, ALLAH MEMBERI 5 JENIS UJIAN KESUSAHAN INI UNTUK MENGHAPUSKAN DOSA-DOSA MANUSIA.

Dalam hidupnya, manusia tidak pernah luput dari kesusahan. Tidak selamanya hal-hal yang menyenangkan akan terus berlaku dalam kehidupan manusia. Sebab ada kalanya manusia perlu merasakan hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hidupnya sebagai pembelajaran.

Bahkan para Nabi pun diuji dengan berbagai macam cobaan. Dari banyaknya kesusahan yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالی, terdapat 5 jenis ujian yang boleh mneghapuskan dosa-dosa yang dilakukan manusia.

Apa 5 jenis kesusahan tersebut?

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda "Tidak akan menimpa muslim sakit, keletihan, kebimbangan, gangguan, kesedihan dan duka hingga duri yang mengenai dirinya. Kecuali Allah SWT akan menghapuskan dosa-dosanya."

Berikut ini 5 kesusahan yang diberikan oleh Allah 
سبحانه وتعالی untuk menghapuskan dosa manusia:

1. Keletihan

Keletihan adalah kesusahan yang pertama yang akan diberikan oleh Allah SWT. Keletihan ini biasanya terjadi pada seseorang yang bekerja tanpa berehat. Dia akan merasakan keletihan yang berat. Kerana merasa lelah, dia sukar untuk melakukan aktiviti yang lain.

Tetapi percayalah bahawa Allah 
سبحانه وتعالی akan menghapuskan dosa-dosanya yang telah lalu jika seorang hamba dapat mengatasi keletihan yang dihadapinya. Setiap keringat yang dikeluarkan akan bernilai ibadah bagi Allah سبحانه وتعالی.

2. Sakit

Kesusahan lain iaitu merasakan sakit. Setiap manusia pasti pernah merasakan sakit dalam hidupnya walaupun hanya sekali. Rasa sakit yang dianugerahkan oleh Allah 
سبحانه وتعالی terasa amat menyeksa.

Nabi 
صلى الله عليه وسلم bersabda, "Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lain, pasti akan hapuskan kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya." (HR. Al-Bukhari no. 5661 dan Muslim no. 651)

Dalam hadis yang lain, Nabi 
صلى الله عليه وسلم bersabda, "Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau sesuatu perkara yang lebih berat dari itu melainkan diangkat darjatnya dan dihapuskan dosanya kerananya." (HR. Muslim no. 2572)

Bergembiralah saudaraku, bagaimana tidak, hanya kerana sakit tertusuk duri saja dosa-dosa kita terhapus. Kerana boleh jadi dengan penyakit ini kita akan bersih dari dosa bahkan tidak mempunyai dosa sama sekali, kita tidak punya timbangan dosa, kita menjadi suci sebagaimana anak yang baru lahir.

Rasulullah 
صلى الله عليه وسلم juga bersabda, "Cubaan akan sentiasa menimpa seorang mukmin dan mukminah, baik pada dirinya, pada anaknya atau pada hartanya, sehingga ia bertemu dengan Allah tanpa dosa sedikitpun." (HR. Ahmad)

Hadits ini sangat sesuai bagi orang yang mempunyai penyakit kronik yang tidak boleh diharapkan kesembuhannya dan vonis doktor mengatakan umurnya tinggal hitungan minggu, hari bahkan jam. Ia bimbang penyakit ini menjadi sebab kematiannya. Hendaknya ia bergembira, kerana boleh jadi ia menghadap Allah suci tanpa dosa. Ertinya syurga telah menunggunya.

Jadi bersabarlah dan jangan mengeluh dengan penyakit yang diberikan Allah, kerana sakit adalah ujian dan dosa-dosa kita akan digugurkan olehNya. Kerana itu, tetap tabah ketika sakit dan terus mencari penawarnya.

3. Kebimbangan

Kesusahan selanjutnya adalah rasa bimbang. Kebimbangan tersebut perlu diatasi dengan baik. Jika tidak, akibatnya fatal. Serahkanlah semua urusan kepada Allah 
سبحانه وتعالی. Sebagai manusia, kita perlu berusaha dan berdoa. Hasilnya biarlah Allah سبحانه وتعالی yang menetapkan. Jadi, hati manusia menjadi lebih tenang kerana segala yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالی adalah yang terbaik.

4. Gangguan

Kesusahan yang diberikan oleh Allah 
سبحانه وتعالی lain iaitu muncul gangguan-gangguan dalam kehidupan. Gangguan ini boleh datang dari pelbagai sisi. Di saat kita melakukan perkara yang baik, ada saja gangguan yang menghalang. Jika kita boleh yakin dan bersabar, dosa-dosa kita akan gugur.

5. Kesedihan

Setiap manusia tentunya mendambakan kehidupan yang menyenangkan, penuh ketenangan, ketenteraman dan kebahagiaan. Tidak ada satu orang manusia pun yang ingin merasakan kesusahan di dalam hidupnya.

Tetapi mustahil hidup manusia penuh dengan kesenangan. Dan Allah 
سبحانه وتعالی memberikan kesedihan kepada manusia untuk menghapuskan dosa-dosanya yang telah lalu. Jika kesedihan ini ditangani dengan bijak dan kesabaran maka dosa-dosa kita akan diampuni oleh Allah سبحانه وتعالی.

Thursday, October 24, 2024

SEMBUNYIKANLAH AMAL MU NAMUN JANGAN SEMBUNYIKAN ILMU MU

Berfirman Allah سبحانه وتعالى :

"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan (ilmu) berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati."

(Surah Al Baqarah : 159)

Jangan sampai menjadi orang yang dilaknati oleh Allah, karena menyembunyikan ilmu yang dimiliki. Beramal lah dengan ilmu yang sudah kalian miliki, berbagilah dengan mereka-mereka yang belum luas pengetahuanya tentang ilmu karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

"Sesungguhnya Allah Ta'ala menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan, bertaqwa dan yang menyembunyikan amalannya. Iaitu orang-orang yang jika tidak hadir mereka tidak dicari, dan jika hadir mereka tidak dikenal. Hati mereka adalah pelita petunjuk. Mereka keluar dari setiap tempat yang gelap."

(HR. Abu Dawud)

Sebagian Ahlul hikmah pernah mengatakan ;

"Menyembunyikan ilmu merupakan kebinasaan, sedangkan menyembunyikan amal merupakan keselamatan."

Semoga Allah memberikan kita taufiq dan hidayahnya agar mendapatkan ilmu yang bermanfa'at.

Aamiin...

Thursday, October 17, 2024

BERSYUKURLAH ATAS SETIAP KELEBIHAN DAN KEKURANGAN NESCAYA ALLAH SWT AKAN TINGKATKAN KEIMANAN DAN MEMBUKA PINTU-PINTU REZEKI

Bersyukur atau rasa terima kasih kepada Allah سبحانه وتعالی adalah satu perasaan atau sikap positif menghargai faedah atau nikmat yang telah atau akan diterima. Islam sangat menganjurkan umatnya agar sentiasa bersyukur di atas kelebihan dan kekurangan rezeki dan nikmat yang dikurniakan Allah سبحانه وتعالی. Malah sifat syukur berada pada tahap tertinggi keimanan seseorang kerana tidak ramai yang mampu mencapai tahap syukur atas semua anugerah diterima di dunia ini. Allah سبحانه وتعالی berfirman :

“Dan sememangnya sedikit sekali di antara hamba-Ku yang bersyukur.” (QS Saba’: 13).

Orang yang bersyukur dan sentiasa menghargai pemberian Allah 
سبحانه وتعالی termasuk nikmat usia, kesihatan, harta benda, anak serta keluarga, akan merasa kebahagiaan hidupnya. Allah سبحانه وتعالی menjanjikan akan menambah nikmat bagi orang-orang yang bersyukur. Allah سبحانه وتعالی berfirman :

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim: 7).

Seterusnya, kita akan meraih ketenangan hidup dan meraih ganjaran syurga kerana Allah menjanjikan pahala yang besar bagi mereka yang sentiasa bersyukur seperti firman Allah 
سبحانه وتعالی yang bermaksud :

“Dan (sebaliknya) Allah memberi balasan pahala kepada orang yang bersyukur (dengan nikmat Islam yang tidak ada bandingnya).” (QS Ali Imran: 144).

Dalam ayat yang lain Allah 
سبحانه وتعالی berfirman :

“Mengapa Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS an-Nisa’: 114).

Bersyukur mengajar kita erti lebih menghargai dengan setiap pemberian mahupun kurniaan Allah 
سبحانه وتعالی. Justeru, syukur itu tidak terhenti hanya di dunia sebaliknya haruslah berkekalan hingga ke akhir hayat supaya terhindar daripada sifat kufur terhadap nikmat diberi.

Friday, November 3, 2023

Jangan Takut Rezeki Direbut

Syeikh Yusri hafidzahullah Ta’ala wa ra’ah dalam pengajian kitab Shahih Bukharinya menjelaskan bahwa janganlah sekali-kali kita berprasangka bahwa ada orang lain yang merebut rezeki darimu.

Semua makhluk Allah telah dijamin akan mendapatkan rezeki yang telah ditentukan jauh sebelum ia terlahir, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Artinya: "Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semua dijamin Allah سبحانه وتعالی rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (QS. Hud: 6).

Maka dari itulah, hendaknya seorang mukmin tidak usah ragu untuk mengajarkan keahliannya kepada orang lain, karena khawatir ia akan merebut rezeki darinya.

"Aku melihat sendiri beberapa orang dokter yang menyembunyikan kemahirannya dalam hal tertentu, sehingga ketika melakukan sebuah operasi kepada pasiennya, maka ia hanya membiarkan suster saja yang berada di dalam, tidak boleh ada dokter lain, khawatir dokter itu akan mengambil sir mihnah (rahasia profesi) darinya"— jelas Syeikh Yusri.

Kebakhilan dalam mengajarkan kebaikan ataupun keahlian yang dianggap bisa mengurangi jatah rezeki dari seseorang adalah merupakan salah satu tanda-tanda hari kiamat yang telah disebutkan oleh Baginda Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Imam Bukhari رضى الله عنه meriwayatkan, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
"Zaman itu semakin singkat, amal ibadah semakin berkurang, kebakhilan semakin merata, nampaklah fitnah dan cobaan, dan banyak sekali kematian"(HR. Bukhari).

Syeikh Yusri mengomentari hadits di atas, bahwa kebakhilan yang meraja lela di akhir zaman ini tidaklah hanya dalam masalah materi dan harta, akan tetapi juga dalam masalah ilmu, keahlian profesi, dan hal-hal yang lain.

Banyak dari mereka yang enggan untuk mengajarkan keahliannya kepada orang lain, hanya karena khawatir hal ini akan mengurangi jatah rezekinya.
Akan tetapi perlu mereka tahu, bahwa usaha boleh ditiru, akan tetapi rezeki tidak ada yang bisa ditiru, Wallahu A’lam.


Friday, October 20, 2023

7 PESAN SAYYIDINA ALI BIN ABU TALIB UNTUK HIDUP BAHAGIA

Sayyidina Ali bin Abu Thalib كرم الله وجهه pernah berkata, ”Jauhilah tujuh perkara maka tubuhmu akan terasa nyaman, hatimu akan terasa tenang, hidupmu akan bahagia, kehormatan dan agamamu akan terjaga.”

Pertama (1),
... jangan meratapi masa lalu. Masa lalu bukan untuk diratapi tetapi direnungkan. Betapa ruginya seseorang menghabiskan hidupnya hanya untuk meratapi sesuatu yang telah berlalu. Karena semua yang telah berlalu tidak pernah terulang kembali. Kalaupun terulang kembali dimensinya akan tetap berbeda. Masa lalu seharusnya dijadikan pelajaran untuk menjemput masa depan yang lebih menjanjikan untuk kehidupan dunia dan akhirat.

Kedua (2),
... jangan memikirkan sesuatu yang belum tentu akan terjadi. Karena hal itu hanya akan menimbulkan kekhawatiran, depresi, stress, mempengaruhi kesehatan tubuh dan terjebak dalam ilusi. Teruslah berprasangkah baik, karena jalan hidup setiap orang sudah ditetapkan oleh Allah. Dalam al-Qur’an, Allah telah berfirman, “Katakanlah bahwa sesuatu sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami, (Q.S. At Taubah: 51).

Ketiga (3),
... jangan menghina orang lain jika apa yang engkau hina ada dalam dirimu. Cerminlah pada diri sendiri sebelum menghina orang lain. Tanyakan pada diri sendiri, pantaskah aku menghina orang lain padahal sesuatu yang aku hina dalam dirinya ada juga dalam diriku ?

Keempat (4),
... jangan meminta balasan dari pekerjaan yang belum pernah dilakukan. Karena hal itu sama saja akan menjatuhkan kehormatan dan harga diri kita. Orang lain akan menganggap kita tidak jauh berbeda dengan pengemis yang meminta-minta di jalanan.

Kelima (5),
... jangan melihat sesuatu yang belum dimiliki dengan penuh ketamakan. Melihat sesuatu yang membuat kita termotivasi untuk mendapatkannya, memang tak ada larangan dalam agama justru diperintahkan selama masih berada dalam koridor yang dibenarkan. Tetapi jika sudah diikuti dengan ketamakan, hal itu melanggar aturan. Karena ketamakan akan menjerumuskan seseorang dalam perbuatan yang berlebih-lebihan dan tidak terkontrol.

Keenam (6),
... jangan marah kepada orang yang terlihat tenang. Karena hal itu sama saja membangunkan singa dari tidurnya dan memancing kelaparan buaya. Jangan melihat orang tenang tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam ketenangannya, ia berusaha menahan amarahnya. Kapan amarahnya keluar, maka ledakannya seperti bom atom yang mematikan. Berusahalah tenang keadaan apapun. Menghadapi sesuatu dengan kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah tetapi justru menambah dan memperkeruh masalah.

Ketujuh (7),
... jangan memuji orang yang tidak tahu diri. Karena orang yang tidak tahu diri semakin dipuji semakin menjadi-jadi dan tidak akan menemukan jalan untuk mengoreksi dirinya. Boleh jadi hari ini dipuji, tetapi bisa jadi esok harinya ia justru menghina dan menjatuhkan kita. Jadi, berhati-hatilah dalam memuji orang lain, apalagi memuji orang yang tidak tahu diri.

Friday, June 2, 2023

DUNIA UNTUK 7 GOLONGAN MANUSIA

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

1. “Dunia ini adalah tempat bagi orang yang tidak memiliki tempat (di akhirat).

2. Dunia adalah harta bagi orang yang tidak memiliki harta (di akhirat).

3. Dunia ini hanya akan ditumpuk-tumpuk oleh orang yang tidak sempurna akalnya.

4. Hanya orang yang tidak faham sajalah yang akan sibuk dengan kesenangan dunia.

5. Hanya orang yang tidak berilmu sajalah yang akan merasa bersedih karena dunia.

6. Hanya orang yang tidak memiliki nurani sajalah yang akan dengki dalam masalah dunia.

7. Hanya orang yang tidak punya keyakinan kepada Allah sajalah yang menjadikan dunia sebagai tujuannya.”


Hadits tersebut tidak melarang manusia untuk berusaha dalam mengurusi keduniawian, tetapi hendaknya tidak sampai melupakan urusan akhirat yang menjadi tujuan utama.

Dalam hadits lain Rasulullah 
صلى الله عليه وسلم bersabda :

“Jika seseorang berusaha mencari nafkah untuk kepentingan anaknya yang masih kecil, maka dia berada di jalan Allah. Jika seseorang berusaha mencari nafkah untuk kepentingan kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka dia berada di jalan Allah. Jika seseorang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan dirinya agar tidak meminta-minta, maka dia berada di jalan Allah. Jika ada seseorang mencari nafkah dengan tujuan riya’ dan untuk bermegah-megahan, maka dia berada di jalan setan.” (HR. Thabarani).


Tuesday, May 23, 2023

Serahkan Dirimu Pada Allah

Menyadari selalu bahwa syaitan itu musuh yang utama.

Sedang kendaraan syaitan itu dalam hawa nafsumu dan selalu berbisik untuk mempengaruhimu.

Firman Allah Ta'ala :

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

"Sesungguhnya syaitan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh."
(Surah Fathir 6).

Berhati-hatilah kepada cinta dunia, sebab itu bibit segala dosa dan dapat merusak amal saleh.

Sebagaimana sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم :

حب الدنيا رأس كل خطيئة 

"Cinta pada dunia itu sumber segala kejahatan."

Sedang Allah Ta'ala berfirman :

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُون

"Sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang bertakwa, dan orang-orang yang berbuat kebaikan."
(Surah an-Nahl 128).

Barangsiapa yang tidak bertakwa, tidak berharga di sisi Allah. Dan barangsiapa yang tidak memiliki sifat-sifat ini, tidak mendapat tempat di Syurga.

Berzikirlah kepada Allah dengan hati yang khusyu' dan waspadalah terhadap sesuatu yang melalaikan, sebab lalai itu menyebabkan hati beku.

Dan serahkan dirimu pada Allah, dan relakan hatimu menerima musibah, ujian sebagaimana kegembiraanmu ketika menerima nikmat dan tundukkan hawa nafsu dengan meninggalkan syahwat.


Monday, March 6, 2023

7 Golongan Dinaungi Allah di Akhirat

Tanpa mengira beriman atau kufur, setiap manusia dikurniakan nikmat. Begitulah sifat ar-Rahman Allah سبحانه وتعالی. Namun, berapa ramai manusia yang berfikir mengenainya?

Bagi umat Islam, tiada nikmat yang lebih besar selain nikmat hidayah daripada Allah untuk menerima Islam dan mempraktikkan ajarannya dalam kehidupan seharian.

Firman-Nya bermaksud : “Pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku kepada kamu dan Aku telah redhakan Islam itu menjadi agama untuk kamu.” (Surah al-Maidah, ayat 3).

Sebagai Muslim atau Muslimah, kita wajib menghargai dan memanfaatkan setiap nikmat dikurniakan Allah. Jangan sampai kita lupa diri dan terus hanyut kerana terlalu banyak nikmat diperoleh. Ingatlah, semuanya harus digunakan demi mencapai redha-Nya.

“Dan tidak (dinamakan) kehidupan dunia melainkan permainan yang sia-sia dan hiburan yang melalaikan dan demi sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Oleh itu, tidakkah kamu mahu berfikir?” (Surah al-An’am, ayat 32).

Menerusi ayat itu Allah melontarkan satu persoalan kepada kita agar sentiasa sedar bahawa kehidupan akhirat adalah bersifat kekal, sedang dunia hanyalah sementara.

Kehidupan akhirat adalah tempat kita menerima ganjaran dan balasan atas setiap perbuatan di dunia. Untuk meraih kebahagiaan di sana, usaha perlu digandakan ketika masih di dunia.

Antara nikmat kurniaan Allah, dua yang kebanyakan daripada kita gagal untuk memanfaatkannya dengan baik, sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah 
صلى الله عليه وسلم dalam sabdanya : “Dua nikmat yang membuatkan kebanyakan manusia tertipu iaitu nikmat sihat dan waktu lapang.” (Hadis riwayat Bukhari).

Berdasarkan hadis ini dapat difahami bahawa kebanyakan manusia tidak memanfaatkan sepenuhnya kedua-dua nikmat berkenaan dalam kehidupan. Ketika masih sihat dan mempunyai masa lapang, kita gagal memperbanyakkan amalan.

Malah, pada kebiasaanya kita hanya tergerak untuk menggandakan amalan ketika usia mulai lanjut. Berapa ramai dalam kalangan kita yang baru belajar ke masjid ketika usia sudah tua?

Meskipun keadaan ini wajar diberi pujian, namun amalan baik ini perlu dimulakan ketika masih muda dan sihat. Ini kerana pada waktu tua macam-macam penyakit pula datang dan ia tentu sekali mengganggu tumpuan untuk beribadat.

Rasulullah 
صلى الله عليه وسلم ada menyatakan bahawa remaja yang membesar dengan memperbanyakkan ibadat kepada Allah akan termasuk dalam salah satu daripada tujuh golongan yang bakal menerima naungan Allah di akhirat kelak.

Begitu juga dengan waktu lapang, perlu dimanfaatkan sebaiknya oleh setiap daripada kita. Ada dalam kalangan kita yang hidupnya sentiasa sibuk dengan urusan dunia sehingga mengabaikan tuntutan agama. Bukankah hal seperti itu merugikan?

Malah, sekiranya kita melengahkan urusan agama seperti solat fardu tanpa sebab dibenarkan, ia menjadi tanda bahawa kita tertipu dengan kehidupan dunia yang bersifat sementara.

Tidak kurang juga yang mempunyai banyak waktu lapang, tetapi memilih untuk mengisinya dengan perbuatan sia-sia. Malah, lebih buruk dan mendukacitakan apabila waktu lapang yang ada itu digunakan untuk melakukan maksiat.

Peringatan Rasulullah 
صلى الله عليه وسلم berkaitan nikmat sihat dan waktu lapang turut dinyatakan dalam satu hadis : “Rebutlah lima perkara sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum kamu tua, masa sihatmu sebelum kamu sakit, masa kayamu sebelum kamu miskin, masa lapangmu sebelum kamu sibuk dan masa hidupmu sebelum kamu mati.” (Hadis riwayat al-Hakim).

Betapa Allah Maha Berkuasa melimpahkan nikmat-Nya kepada kita tatkala kita bersyukur kepadaNya. Bagaimana cara mensyukuri nikmat Allah?

Antaranya ialah memanfaatkan nikmat itu dengan perkara yang dapat mendekatkan diri kita kepada-Nya. Nikmat kesihatan dan waktu lapang perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan melakukan amalan terpuji, sama ada terhadap Tuhan mahupun sesama manusia dan makhluk lain termasuklah alam sekitar.

Firman Allah 
سبحانه وتعالی yang bermaksud : “Dan (ingatlah) tatakala Tuhan kamu memberitahu : Demi sesungguhnya! Jika kamu bersyukur nescaya Aku akan tambah nikmat-Ku kepada kamu dan demi sesungguhnya, jika kamu kufur ingkar sesungguhnya azab-Ku amatlah keras.” (Surah Ibrahim, ayat 7).

Semoga kita tergolong dalam kalangan hamba-Nya yang mensyukuri nikmat. Di samping itu, bermohonlah agar Allah terus menambahkan nikmat-Nya kepada kita.



MAKSUD "KEMBALI KEPADA AL-QURAN DAN AL-SUNNAH"

Satu ketika dahulu, saya ada terbaca isi laporan dalam akhbar yang menyatakan lebih kurang begini, "jika anda menghadapi masalah, kembalilah kepada al-Quran dan al-Sunnah".

Apabila kita membaca kenyataan ini sepintas lalu, kata-kata itu amat indah sekali. Cuma maksud sebenar bagi kata-kata itu perlu diperhalusi lagi.

Jika yang dimaksudkan dengan kembali kepada al-Quran dan Sunnah itu ialah membaca sendiri kitab al-Quran dan al-Sunnah tanpa bimbingan daripada para alim ulama, maka pemahaman seperti itu tidak kena pada tempatnya. Hal ini kerana tidak semua tempat di dalam al-Quran dan Sunnah dapat difahami oleh semua orang. Pada ayat atau hadith yang misalnya berkaitan dengan ayat mutasyabihaat, hukum-hakam, nasikh mansukh, tafsiran makna tersirat dan sebagainya tidak semua boleh memahami dengan baik akan hal ini.

Kembali kepada al-Quran dan al-Sunnah mestilah difahami dengan erti kata kembali kepada pemahaman yang sebenar sebagaimana yang diajar oleh para alim ulama, bukannya kembali kepada "pemahaman sendiri atau tafsiran masing-masing terhadap al-Quran dan al-Sunnah, lalu mendakwa itulah maksud kembali kepada al-Quran dan al-Sunnah sebenar, sedangkan dalam masa yang sama menentang ulama dan tidak mempelajari ilmu kepada ulama". Oleh yang demikian, kita sebagai orang awam, amat tidak memadai hanya sekadar melihat terjemahan al-Quran dan al-Sunnah, lalu terus mengamalkannya tanpa mempelajari kepada para alim ulama yang membicarakan mengenainya.

Di dalam al-Quran dan al-Sunnah terdapat ayat yang berbentuk mujmal, muhkam, mutasyabih, nasikh, mansukh, am, khas, muqayyad, dan banyak lagi yang mana sudah tentu untuk memahaminya dengan baik perlu kepada bimbingan para alim ulama. Jika kita tidak merujuk kepada bimbingan ulama, maka ayat yang sebenarnya tidak berlaku pertentangan antara satu sama lain, dikatakan berlaku bertentangan disebabkan pemahaman dan ilmu kita yang dangkal. Misalnya ayat al-Quran yang menyatakan boleh qasar solat ketika dalam situasi peperangan, hanya menyebut dalam situasi peperangan sahaja, tidak menyebut mengenai keadaan musafir yang bukan dalam situasi peperangan. Rukhsah untuk membolehkan qasar solat ketika bermusafir yang bukan dalam situasi peperangan boleh didapati penjelasannya menerusi hadith dan kalam ulama yang membicarakan mengenainya. Jika kita tidak berpandukan kepada pengajaran dan bimbingan daripada alim ulama untuk memahami ayat al-Quran dan hadith, sudah tentu kita tidak dapat beramal dengan wahyu Allah SWT dengan erti kata yang sebenarnya.

Justeru, kembalilah kepada bimbingan para alim ulama untuk memahami al-Quran dan al-Sunnah dengan baik, barulah benar slogan yang mengatakan "Kembali Kepada al-Quran dan al-Sunnah". Jika kita tidak kembali kepada bimbingan para alim ulama untuk memahami al-Quran dan al-Sunnah, maka sebenarnya tanpa sedar kita semakin terpesong dan jauh daripada al-Quran dan Sunnah. Bertambah parah apabila kita mendakwa yang kita lebih memahami daripada ulama, lalu menentang ulama dengan sekeras-kerasnya. Semoga kita sentiasa menjadi insan yang sentiasa dibimbing oleh ulama pewaris para Nabi.

Wallahua'lam
Kredit Dr @Mohd Murshidi


Tuesday, February 14, 2023

TANDA BERIMAN ATAU BERDOSA

Setiap perbuatan dosa itu apabila dilakukan akan menyebabkan hati gelisah.

Jika sesuatu yang dilakukan menyebabkan hati tidak tenang, segeralah jauhi, tinggalkan dan bersegeralah bertaubat.

Jika sesuatu perbuatan yang salah dan buruk dilakukan menyebabkan hati gelisah dan apabila perbuatan baik yang dilakukan menyebabkan hati gembira dan tenang itu bermakna tanda kita orang yang "BERIMAN".

Jika melakukan perkara dosa dan maksiat hati tak gelisah itu bermakna telah "LUNTUR IMAN" kita.

Marilah kita melakukan amal yang menenangkan dan menggembirakan hati bukan sebaliknya...

Daripada Zaid bin Sallam dari datuknya berkata ;

عَنْ زَيْدِ بْنِ سَلَّامٍ عَنْ جَدِّهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا أُمَامَةَ يَقُولُ سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا الْإِثْمُ فَقَالَ إِذَا حَكَّ فِي نَفْسِكَ شَيْءٌ فَدَعْهُ قَالَ فَمَا الْإِيمَانُ قَالَ إِذَا سَاءَتْكَ سَيِّئَتُكَ وَسَرَّتْكَ حَسَنَتُكَ فَأَنْتَ مُؤْمِن

"Aku mendengar Abu Umamah berkata : Seseorang bertanya pada Nabi 
صلى الله عليه وسلم; Apa itu dosa? Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda ; "Bila sesuatu menggelisahkan hatimu maka tinggalkanlah." Orang itu bertanya lagi ; Apa itu iman? Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda ; "Bila perbuatan buruk yang dilakukan menggelisahkanmu dan amal kebaikan menggembirakanmu berarti engkau mukmin." (HR Ahmad No: 21138) Hadis Sahih


Sunday, February 12, 2023

Ketika Ujub Menyelimuti Hati : Oleh Al-Habib Umar bin Hafidz

• "Jika Allah mudahkan bagimu mengerjakan sholat malam, maka janganlah memandang rendah orang-orang yang tertidur"

• "Jika Allah mudahkan bagimu melaksanakan puasa, maka janganlah memandang orang-orang yang tidak berpuasa dengan tatapan menghinakan"

• "Jika Allah memudahkan bagimu pintu untuk berjihad, maka janganlah memandang orang-orang yang tidak berjihad dengan pandangan meremehkan"

• "Jika Allah mudahkan pintu rezeki bagimu, maka janganlah memandang orang-orang yang berhutang dan kurang rezekinya dengan pandangan yang mengejek dan mencela, karena itu adalah titipan Allah yang kelak akan dipertanggung jawabkan"

• "Jika Allah mudahkan pemahaman agama bagimu, janganlah meremehkan orang lain yang belum faham agama dengan pandangan hina"

• "Jika Allah mudahkan ilmu bagimu, janganlah sombong dan bangga diri karenanya, sebab Allah lah yang memberimu pemahaman itu"

• "Dan boleh jadi orang yang tidak mengerjakan qiyamullail, puasa (sunnah), tidak berjihad dan semisalnya lebih dekat kepada Allah darimu"

• "Sungguh engkau terlelap tidur semalaman dan pagi harinya menyesal...lebih baik bagimu daripada qiyamullail semalaman namun pagi harinya engkau "merasa" TAKJUB dan BANGGA dengan amalmu,

Sebab tidak layak orang merasa bangga dengan amalnya, karena sesungguhnya ia tidak tahu amal yang mana yang Allah akan terima...


Sedikit Perkongsian daripada Sheikhuna Youssef Muhieddine Rek El Bakhour al Hasani

Ketika kau bergantung kepada manusia, kau akan menjadi manusia yang paling rendah nilainya, tiada memiliki apa-apa. Namun saat kau sandarkan pergantunganmu kepada Allah, maka kau akan menjadi manusia yang paling kaya serta memiliki kecukupan. Pergantungan kepada manusia itulah kehinaan sementara pergantungan kepada Allah adalah sebuah kemuliaan.

Saat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم berdoa mafhumnya :

"Ya Allah, hidupkanlah aku sebagai orang yang miskin dan matikanlah aku sebagai orang yang miskin."

Miskin ini memiliki dua sisi pandangan. Dari sudut fizikal, miskin itu adalah kekurangan pada harta benda. Dari sudut maknawi, miskin itu adalah hamba yang faqir berhajat kepada Allah.

Maka miskin yang dimaksudkan daripada doa Baginda Nabi صلى الله عليه وسلم hati yang bergantung sepenuhnya kepada Allah sehinggalah سكن القلب - tenangnya hati bersama Allah.


Saturday, February 11, 2023

JANGAN SEDIH DENGAN UJIAN DUNIA INI

Dunia adalah ladang ujian, tidak ada seorang manusia pun melainkan akan diuji dengan kesehatan dan kelapangan untuk mengetahui sejauh mana ia akan mensyukurinya dan ia juga akan diuji dengan musibah dan kesempitan untuk mengetahui sejauh mana ia akan bersikap sabar menghadapi ujian tersebut.

Allah سبحانه وتعالى berfirman :

وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (Qs. Al-A’raf 168)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.

“Sungguh menakjubkan perkara kaum mukmin, sesungguhnya semua perkaranya adalah kebaikan, dan itu tidak akan terjadi kecuali bagi orang beriman. Jika ia dianugerahi nikmat ia bersyukur dan itu baik baginya, jika ia tertimpa musibah ia bersabar maka itu baik baginya.” (HR. Muslim 2999)

Ibnul Qayyim رحمة الله تعالى berkata : “Seandainya manusia mengetahui bahwa nikmat Allah yang ada dalam musibah itu tidak lain seperti halnya nikmat Allah yang ada dalam kesenangan, niscaya hati dan lisannya akan selalu sibuk untuk mensyukurinya.” 

Allah سبحانه وتعالى berfirman berfirman :

وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah yang mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(Qs. Al-Baqarah 216)

YA MUHAWWILAL HAAL HAWWIL HAALANA ILAA AHSANIL HAAL
Wahai Dzat Yang Maha Merubah Keadaan, Rubahlah Keadaan Kami, Sebaik-Baiknya Keadaan... Aamiin...

[ AL-HABIB ANIS BIN ALWI AL-HABSYI ]
ALLAHUMMA SOLLI ALA SAYYIDINA MUHAMMAD


PESAN TENTANG HATI

“Ada manusia yang mana amalannya seperti gunung di dunia, akan tetapi di akhirat umpama debu yang berterbangan, kerana hatinya.

Kedengkian sesama muslim itu adalah penyakit, jadilah kamu seorang da'i, yakni yang mengajak, dan bukannya seorang qadi, yakni yang menghukum. Semua para wali Allah itu, diangkat darjatnya oleh Allah kerana hatinya yang bersih, tidak sombong, tidak dengki dan selalu merendah diri.

Sebagai tanda jika Allah ‎تعالى ingin menutupi semua kejahatanmu, maka Allah akan jadikan dirimu senang menutupi aib orang lain. Dan ketika Allah ingin membuka aibmu, Allah jadikan pula dirimu suka mencari-cari aib atau kekurangan orang lain.

Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang yang merendah diri dan tidak suka mencari cari aib atau kekurangan orang lain.”

[ Habib Umar bin Hafidz ]


Friday, February 10, 2023

Iman & Maut

Di antara besi, api, air dan iman, imanlah yang paling terkuat. Sebab iman tidak akan hilang meski maut menjemputmu dan memisahkanmu dari dunia ini. Ia akan tetap hidup dan akan menemanimu sampai di akhirat nanti. Jangan sampai menjadikan dunia itu sebagai tujuan hidupmu hingga kau lalai dengan tujuan hidupmu yang kekal yaitu kehidupan di akhirat.

Dari Zaid bin Tsabit رضى الله عنه , ia mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ...

"Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina."

فَأَمَّا مَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ...

"Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah.” (QS. Al Qari’ah [101]: 6-9)


Sunday, February 5, 2023

MASUK DALAM AIR - TIDAK MAHU BASAH

Perumpamaan bagi orang yang tidak mahu diuji atau tidak mahu berdepan dengan dugaan sepanjang hidup di atas muka bumi ini.

Setiap manusia akan diuji, tanpa terkecuali. Orang yang hidup di dunia tetapi tidak mahu dugaan, umpama orang yang masuk ke dalam laut namun tidak mahu basah.

Mampu? Mustahil...
Kerana dunia ini adalah tempat ujian dan dugaan.

[ Al Habib Ali Zaenal Abidin Al Hamid ]

4 sebab berlakunya suatu musibah / dugaan :

• untuk perolehi kasih sayang-Nya
• untuk diuji kesabaran seseorang
• untuk elakkan musibah yang lebih besar terutamanya yang membabitkan keimanan seseorang
• sebagai penghapusan dosa

Barangsiapa yang ditimpa musibah atau dugaan dan bersangka baik dengan menghadirkan salah satu atau kesemua sebab di atas, maka ketahuilah bahawa kalian dikasihi oleh-Nya.



Memperbaharui kehidupan

Allah سبحانه وتعالی memberi kita kesempatan pada setiap pagi untuk memperbaharui kehidupan kita. Setelah beristirehat daripada penat pada hari sebelumnya, kita mula bergerak kembali bersama dengan terbitnya mentari yang baru.

Pada detik-detik istirehat, kita mungkin telah bertanya kepada diri :

"Berapa kali aku tergelincir ketika berjalan?"
"Berapa kali aku cenderung mengikuti egoku?"
"Berapa kali aku lakukan perbuatan hina?"
"Berapa kali rasa bingung menyesatkanku sehingga aku berasa hancur dan terhina?"

Saat datangnya pagi, kita perbaharui hidup dan membangun kembali jiwa kita yang dipenuhi cahaya harapan dan kesedaran.

Suara kebenaran akan memanggil-manggil dari setiap tempat agar orang yang sesat segera mendapatkan petunjuk dan orang yang lalai segera memperbaharui hidupnya.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

"Apabila telah tiba separuh malam atau sepertiganya, Allah turun ke langit dunia hingga terbit fajar seraya berfirman, 'Adakah orang yang meminta kepada-Ku? Adakah orang yang berdoa kepada-Ku? Adakah orang yang memohon keampunan kepada-Ku?"
(Riwayat Muslim)

Apabila kita mampu mengingat Allah سبحانه وتعالی pada waktu-waktu seperti itu, lakukanlah! Di atas sisa-sisa masa lalu yang baru atau telah lama berlaku, kita masih dapat membina masa depan.

Jangan dirisaukan oleh perasaan banyak berdosa.

Seandainya dosa kita setinggi gunung atau laksana buih di lautan, Allah سبحانه وتعالی akan mengampuni. Dia tetap akan memberikan ampunan-Nya apabila kita mendatangi-Nya dengan tulus dan lurus.

Timbunan dosa masa lalu tidak boleh menghalangi kita untuk kembali kepada kebenaran.

[ Tulisan dari buku Hiduplah Untuk Hari Ini, terjemahan Kitab 'Jaddid Hayatak', Syeikh Muhammad Al Ghazali, ulama besar Mesir ]


Tuesday, January 17, 2023

AGAR DICUKUPI ALLAH TA'ALA


مَنْ قَرَأَ بِالآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِى لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

“Siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah pada malam hari, maka ia akan diberi kecukupan.” (HR. Bukhari no. 5009 dan Muslim no. 808)

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ الْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

Dari Abu Mas'ud Al Anshari 
رضى الله عنه berkata, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Barangsiapa membaca dua ayat dari akhir surah Al-Baqarah pada waktu malam, maka itu telah cukup (untuk melindunginya dari kejahatan yang dibenci)."

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِأَلْفَيْ عَامٍ فَأَنْزَلَ مِنْهُ آيَتَيْنِ فَخَتَمَ بِهِمَا سُورَةَ الْبَقَرَةِ وَلَا يُقْرَأَانِ فِي دَارٍ ثَلَاثَ لَيَالٍ فَيَقْرَبَهَا الشَّيْطَانُ قَالَ عَفَّانُ فَلَا تُقْرَبَنَّ

Dari An Nu'man bin Basyir رضى الله عنه, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Sesungguhnya Allah telah menulis kitab dua ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Kemudian Dia menurunkan dua ayat darinya dan menjadikan kedua ayat tersebut sebagai penutup dari surah Al-Baqarah. Maka tidaklah dua ayat itu dibaca di dalam rumah selama tiga malam kemudian setan tidak berani mendekatinya." Affan berkata, "Maka (rumah itu) tidak akan didekati (setan)."

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُعْطِيتُ خَوَاتِيمَ سُورَةِ الْبَقَرَةِ مِنْ بَيْتِ كَنْزٍ مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ لَمْ يُعْطَهُنَّ نَبِيٌّ قَبْلِي

Dari Abu Dzar رضى الله عنه dia berkata, "Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, "Aku telah diberi penutup surat Al-Baqarah dari harta simpanan di bawah Arsy, yang tidak diberikan kepada seorang Nabi pun sebelumku."

Dua Ayat Terakhir Surah Al-Baqarah

آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285)

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286)

Aamanar rasuulu bimaa unzila ilaihi mir robbihii wal mu-'minuun, kullun aamana billaahi wa malaa-'ikatihii wa kutubihii wa rusulih, laa nufarriqu baina ahadim mir rusulih, wa qoolụ sami-'naa wa atho-'naa gufroonaka rabbanaa wa ilaikal-mashiir (285)

Laa yukallifulloohu nafsan illaa wus-'ahaa, lahaa maa kasabat wa ‘alaihaa mak-tasabat, rabbanaa laa tu-'aakhidznaa in nasiinaa au akh-tho-'naa, robbanaa wa laa taḥmil ‘alainaa ish-rong kamaa ḥamaltahụ ‘alal ladziina ming qoblinaa, rabbanaa wa laa tuḥammilnaa maa laa thooqota lanaa bih, wa-'fu ‘annaa, waghfir lanaa, war-hamnaa, anta maulaanaa fangshurnaa ‘alal qoumil kaafiriin (286)

Artinya :

Rasul telah beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (285)

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.” (286)


Saturday, October 9, 2021

RENUNGLAH SELALU HATI KITA

Renunglah selalu hati kita. Kerana ia merupakan sumber kebaikan dan kejahatan. Wadah kekufuran dan keimanan. Rebutan di antara malaikat dan syaitan.

Hati perasaannya halus. Sentuhannya tiada terasa. Tapi sangat memberi kesan di dalam kehidupan kita. Siapa yang arif perjalanan hatinya. Faham kebaikan dan kejahatannya. Bersungguh-sungguh bermujahadah membuang kejahatannya. Diganti segera dengan kebaikan, orang itu akan selamat dari tipu daya syaitan dan dunia.

Ramai orang tidak faham perjalanan hatinya, sekalipun ulama (ulama dunia). Terima sahaja yang baik dan yang buruknya. Kemudian merasakan baik semuanya. Tiada terasa lagi membuat dosa. Di sinilah perlu pimpinan guru mursyid yang mengenal hati manusia.


Saturday, September 11, 2021

Bagaimana keburukan orang lain akan terdapat pada diri kita?

"Bagaimana keburukan orang lain akan terdapat pada diri kita? Ianya dengan kita menyebut-nyebut dan menceritakan keburukan orang lain (mengumpat).

Diceritakan dalam sebuah kampung ada seorang perempuan (dihina orang kampung), dan orang kampung sering menyebut-nyebut dan menceritakan keburukan perempuan ini dengan tujuan menghina dan merendah-rendahkannya.

Suatu hari, perempuan tersebut meninggal dunia. Seorang orang soleh dalam kampung tersebut bermimpi melihat perempuan tersebut berada di dalam syurga dengan kedudukan yang tinggi, dan perempuan tersebut berada dalam syurga dengan penuh bangga dengan memakai pakaian yang cantik.

Orang soleh bertanya kepada perempuan tersebut "Bagaimana engkau boleh memperolehi kedudukan sebegini?" Perempuan tersebut menjawab "Amalanku tidak banyak, namun orang-orang kampungku sering memperkatakan yang tidak baik tentangku (mengumpat).

Jadi pahala-pahala solat, puasa, dan kebaikan-kebaikan mereka telah diberikan kepadaku oleh Allah سبحانه وتعالی sehingga aku mendapat kedudukan sebegini di dalam syurga."

[ Al-Allamah Al-Musnid Habib Umar Bin Muhammad Bin Salim Bin Hafidz ]