Friday, November 3, 2023

Maqam Sabar

“Sesungguhnya darjat yang tertinggi di dalam Maqam (kedudukan) sabar adalah menahan diri dari mengadu kepada selain Allah سبحانه وتعالى”.

[ Syeikh Abu Bakar Bin Salim ]


Jangan Takut Rezeki Direbut

Syeikh Yusri hafidzahullah Ta’ala wa ra’ah dalam pengajian kitab Shahih Bukharinya menjelaskan bahwa janganlah sekali-kali kita berprasangka bahwa ada orang lain yang merebut rezeki darimu.

Semua makhluk Allah telah dijamin akan mendapatkan rezeki yang telah ditentukan jauh sebelum ia terlahir, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Artinya: "Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semua dijamin Allah سبحانه وتعالی rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (QS. Hud: 6).

Maka dari itulah, hendaknya seorang mukmin tidak usah ragu untuk mengajarkan keahliannya kepada orang lain, karena khawatir ia akan merebut rezeki darinya.

"Aku melihat sendiri beberapa orang dokter yang menyembunyikan kemahirannya dalam hal tertentu, sehingga ketika melakukan sebuah operasi kepada pasiennya, maka ia hanya membiarkan suster saja yang berada di dalam, tidak boleh ada dokter lain, khawatir dokter itu akan mengambil sir mihnah (rahasia profesi) darinya"— jelas Syeikh Yusri.

Kebakhilan dalam mengajarkan kebaikan ataupun keahlian yang dianggap bisa mengurangi jatah rezeki dari seseorang adalah merupakan salah satu tanda-tanda hari kiamat yang telah disebutkan oleh Baginda Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Imam Bukhari رضى الله عنه meriwayatkan, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
"Zaman itu semakin singkat, amal ibadah semakin berkurang, kebakhilan semakin merata, nampaklah fitnah dan cobaan, dan banyak sekali kematian"(HR. Bukhari).

Syeikh Yusri mengomentari hadits di atas, bahwa kebakhilan yang meraja lela di akhir zaman ini tidaklah hanya dalam masalah materi dan harta, akan tetapi juga dalam masalah ilmu, keahlian profesi, dan hal-hal yang lain.

Banyak dari mereka yang enggan untuk mengajarkan keahliannya kepada orang lain, hanya karena khawatir hal ini akan mengurangi jatah rezekinya.
Akan tetapi perlu mereka tahu, bahwa usaha boleh ditiru, akan tetapi rezeki tidak ada yang bisa ditiru, Wallahu A’lam.


Friday, October 20, 2023

PENYEBAB SULIT MENERIMA NASEHAT DAN ENGGAN DIAJAK TAAT

Di antara pengaruh buruk dosa dan maksiat adalah menghalangi orang dari ketaatan.

Al-Imam Sufyan ats-Tsawri رحمة الله تعالى berkata,

حرمت قيام الليل أربعة أشهر بذنب أذنبته

"Selama empat bulan aku terhalang dari qiyamul lail (menghidupkan malam dengan ketaatan) karena dosa yang aku lakukan."

Jika diri berat menjalankan ketaatan atau ketaatan terasa hambar maka itu pertanda banyaknya dosa-dosa kita.

Dosa-dosa itu menorehkan bintik-bintik hitam di hati yang semakin terus menumpuk menutupi hati hingga buta, wal-'iyaadzubillah.

Inilah yang disebut oleh Allah Ta'ala di dalam firman-Nya,

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu (dari perbuatan dosa) telah menutupi hati mereka."
(QS. al-Muthaffifin: 14)

Tiada jalan lain membersihkan hati dan mensucikan jiwa selain kembali kepada Allah dengan sungguh-sungguh bertaubat, thalabul ilmi dan banyak istighfar.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita dengan hidayah dan Taufiq Nya...
Aamiin Ya Robbal 'Alaamiin...

7 PESAN SAYYIDINA ALI BIN ABU TALIB UNTUK HIDUP BAHAGIA

Sayyidina Ali bin Abu Thalib كرم الله وجهه pernah berkata, ”Jauhilah tujuh perkara maka tubuhmu akan terasa nyaman, hatimu akan terasa tenang, hidupmu akan bahagia, kehormatan dan agamamu akan terjaga.”

Pertama (1),
... jangan meratapi masa lalu. Masa lalu bukan untuk diratapi tetapi direnungkan. Betapa ruginya seseorang menghabiskan hidupnya hanya untuk meratapi sesuatu yang telah berlalu. Karena semua yang telah berlalu tidak pernah terulang kembali. Kalaupun terulang kembali dimensinya akan tetap berbeda. Masa lalu seharusnya dijadikan pelajaran untuk menjemput masa depan yang lebih menjanjikan untuk kehidupan dunia dan akhirat.

Kedua (2),
... jangan memikirkan sesuatu yang belum tentu akan terjadi. Karena hal itu hanya akan menimbulkan kekhawatiran, depresi, stress, mempengaruhi kesehatan tubuh dan terjebak dalam ilusi. Teruslah berprasangkah baik, karena jalan hidup setiap orang sudah ditetapkan oleh Allah. Dalam al-Qur’an, Allah telah berfirman, “Katakanlah bahwa sesuatu sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami, (Q.S. At Taubah: 51).

Ketiga (3),
... jangan menghina orang lain jika apa yang engkau hina ada dalam dirimu. Cerminlah pada diri sendiri sebelum menghina orang lain. Tanyakan pada diri sendiri, pantaskah aku menghina orang lain padahal sesuatu yang aku hina dalam dirinya ada juga dalam diriku ?

Keempat (4),
... jangan meminta balasan dari pekerjaan yang belum pernah dilakukan. Karena hal itu sama saja akan menjatuhkan kehormatan dan harga diri kita. Orang lain akan menganggap kita tidak jauh berbeda dengan pengemis yang meminta-minta di jalanan.

Kelima (5),
... jangan melihat sesuatu yang belum dimiliki dengan penuh ketamakan. Melihat sesuatu yang membuat kita termotivasi untuk mendapatkannya, memang tak ada larangan dalam agama justru diperintahkan selama masih berada dalam koridor yang dibenarkan. Tetapi jika sudah diikuti dengan ketamakan, hal itu melanggar aturan. Karena ketamakan akan menjerumuskan seseorang dalam perbuatan yang berlebih-lebihan dan tidak terkontrol.

Keenam (6),
... jangan marah kepada orang yang terlihat tenang. Karena hal itu sama saja membangunkan singa dari tidurnya dan memancing kelaparan buaya. Jangan melihat orang tenang tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam ketenangannya, ia berusaha menahan amarahnya. Kapan amarahnya keluar, maka ledakannya seperti bom atom yang mematikan. Berusahalah tenang keadaan apapun. Menghadapi sesuatu dengan kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah tetapi justru menambah dan memperkeruh masalah.

Ketujuh (7),
... jangan memuji orang yang tidak tahu diri. Karena orang yang tidak tahu diri semakin dipuji semakin menjadi-jadi dan tidak akan menemukan jalan untuk mengoreksi dirinya. Boleh jadi hari ini dipuji, tetapi bisa jadi esok harinya ia justru menghina dan menjatuhkan kita. Jadi, berhati-hatilah dalam memuji orang lain, apalagi memuji orang yang tidak tahu diri.

Saturday, September 9, 2023

PERINGKAT MANUSIA DALAM BERIBADAH

Janganlah semua hak itu menjadi tujuan, kerana semuanya merupakan balasan dari Allah, baik yang segera ataupun yang ditangguhkan. Setiap tujuan menyimpan kekurangan pada ikhlas dan membatalkan kebenaran penghambaanmu. Ibn Atha'illah رحمة الله تعالى berkata, "Barangsiapa beribadah kerana mengharapkan sesuatu dari-Nya atau mentaati-Nya agar terhindar dari hukuman-Nya, bererti dia tidak menjalankan hak dari sifat-sifat-Nya."

Dalam beribadah, manusia terbahagi kepada tiga kelompok sesuai dengan tahap keikhlasannya. Di antara mereka ada yang beribadah kepada Allah kerana takut atas hukuman-Nya, baik di dunia mahupun di akhirat, atau sangat mengharapkan rahmat dan penjagaan-Nya di dunia ataupun di akhirat, mereka adalah orang-orang awam kaum Muslim. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, "Seandainya mereka tidak ada (syurga atau neraka), tentu tidak akan ada orang yang bersujud." (kelompok pertama).

Di antara mereka ada yang beribadah kepada Allah kerana mencintai-Nya dan merindukan pertemuan dengan-Nya, bukan kerana mengharapkan syurga atau penjagaan-Nya, juga bukan kerana takut pada neraka dan seksa-Nya. Mereka adalah orang-orang yang mencintai dari kalangan orang-orang yang berjalan menuju Allah (kelompok kedua). Di antara mereka ada yang beribadah kepada Allah kerana menjalankan tugas-tugas sebagai hamba dan beretika kepada Tuhan Yang Maha Agung. Dengan erti kata lain, mengakui kehambaannya dan menjalankan tugas-tugasnya kepada Tuhan. Mereka adalah orang-orang arif yang mencintai (kelompok ketiga).

[ Kitab Iqazul Himam Fi Syarhi al-Hikam, Syeikh Ibnu 'Ajibah رحمة الله تعالى ]

ZAHIRKAN KETAATANMU

"Zahirkan (tunjukkan) ketaatanmu kepada Allah سبحانه وتعالى sebagai bukti penghambaanmu seperti mana orang lain yang tidak malu untuk menunjukkan kemaksiatannya. Sebarkan juga ilmu dan kebijaksanaan yang telah dianugerahkan Allah سبحانه وتعالى kepadamu pada orang ramai.”

[ Imam Abul Hasan Asy-Syadzili رضى الله عنه ]

Friday, June 2, 2023

ILMU YANG BERMANFAAT

Di dalam sebuah Hadith, Baginda صلى الله عليه وسلم bersabda :

العلم علمان: علم في القلب فذاك العلم النافع، وعلم على اللسان فتلك حجّة الله على عباده.

"Ilmu itu terbahagi kepada dua : 1) Ilmu yang ada di dalam hati; itulah ilmu yang bermanfaat dan 2) ilmu yang ada pada lisan; maka ilmu tersebut merupakan hujjah Allah ke atas hamba-hambaNya." (Musonnaf Ibnu Abi Syaibah)

Para Ulama sering kali menjelaskan maksud ilmu yang bermanfaat itu ialah ilmu yang dapat menyucikan hati dan rohani. Berkata Abdul Rahman Ibn Nasir Al-Sa'di رحمة الله تعالى di dalam kitabnya, Bahjah Qulub Al-Abrar Wa Qurrah 'Uyun Al-Akhyar :

أمّا العلم النافع: فهو العلم المزكي للقلوب والأرواح، المثمر لسعادة الدّارين.

"Adapun ilmu yang bermanfaat ialah ilmu yang menyucikan hati dan rohani, ilmu yang membuahkan kebahagiaan dunia dan akhirat."

Beliau berkata lagi :

إن العلم النافع علامة على سعادة العبد.

"Sesungguhnya ilmu yang bermanfaat merupakan tanda kebahagiaan seorang hamba."

Imam Al-Munawi رحمة الله تعالى juga ada menyebutkan dalam kitabnya Faidh Al-Qadir Syarah Jami' Al-Soghir, beliau menaqal ucapan Imam Al-Ghazali رحمة الله تعالى :

العلم النافع هو ما يتعلق بالآخرة، وهو علم أحوال القلب وأخلاقه المذمومة والمحمودة، وما هو مرضيّ عند الله تعالى.

"Ilmu yang bermanfaat itu ialah ilmu yang berkaitan dengan akhirat. Ia merupakan ilmu yang berkaitan hal ehwal hati dan akhlaknya yang buruk dan baik. Ia juga suatu ilmu yang diredhai di sisi Allah سبحانه وتعالی."

Imam San'ani رحمة الله تعالى pula berkata dalam kitabnya Al-Tanwir Syarah Jami' Al-Soghir mengenai ilmu yang bermanfaat :

الّذي أشرق به القلب وتهذّبتْ به الأخلاق.

"Ilmu yang dengannya bersinarlah hati dan terdidiklah akhlak."