Wednesday, July 8, 2015

TENGGELAM DAN FANA DALAM SAMUDERA TAUHID

Siri Pengajian Tasawwuf.


Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani قدس الله سره pada penutup surah An-Nisa dalam Tafsir Al-Jailani mengatakan :

“Wahai engkau yang selalu berusaha mewujudkan kebenaran, yang selalu bergerak menuju keesaan Allah – Semoga Allah menghantarkanmu ke puncak tujuanmu—engkau harus berpegang pada semua bukti yang jelas, yang sampai kepadamu dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang menunjukkan tauhid al-Haqq. Engkau juga harus mengambil cahaya Al-Qur`an yang membedakan antara yang hak dan batil yang ada di jalan-Nya, lalu kau laksanakanlah berbagai hal yang dapat mengantarkan kepada Allah, yang engkau temukan di jalan itu.

Engkau harus menghindari semua larangan-Nya yang akan menyesatkanmu dan menjauhkanmu dari-Nya. Engkau harus berakhlak dengan berbagai kandungan yang terdapat di dalam semua hukum dan kisah-kisah yang disebutkan di dalamnya; agar engkau dapat mewujudkan rahsia tauhid yang disimbolkannya dan sinar keeesaan Allah dalam kemasan keberbilangan.

Engkau harus teguh bersemayam di wilayah keesaan Dzat yang akan mengenyahkan semua hasrat batil yang musnah dalam seluruh diri-Nya.

Semua ini tentu tidak mudah untuk engkau lakukan, kecuali dengan melakukan khidmat panjang kepada sang Mursyid al-Kâmil al-Mukammil (yang sempurna dan menyempurnakan) yang membimbingmu kepada Allah, sebagai bentuk uluran dari Tali Allah yang terentang dari keazalian Dzat sampai keabadian asma dan sifat-sifat-Nya. Ketahuilah bahawa "Tali Allah" itu adalah al-Qur`an yang diturunkan kepada sang Makhluk Terbaik Muhammad صلى الله عليه وسلم yang telah bersabda : "Al-Qur`an adalah Tali Allah yang terentang dari langit sampai ke bumi."

Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga bersabda, "Sesungguhnya Al-Qur`an ini adalah hidangan Allah. Maka ambillah dari hidangan-Nya semampu kalian. Sesungguhnya Al-Qur`an ini adalah Tali Allah dan Cahaya yang Menjelaskan (an-Nûr al-Mubîn) dan Penyembuh yang Bermanfaat (asy-Syifâ` an-Nâfi'), yang menjadi 'ishmah (pelindung dari dosa) bagi siapapun yang berpegang kepadanya, dan menjadi keselamatan bagi siapapun yang mengikutinya. Ia tidak menyimpang sehingga perlu dikecam, dan ia tidak bengkok sehingga perlu diluruskan. Keajaiban-keajaibannya tidak pernah habis, dan ia tidak diciptakan disebabkan banyaknya bantahan.

Bacalah ia, kerana sesungguhnya Allah memberi kalian pahala atas bacaannya dengan ganjaran satu huruf dibalas sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan bahwa alif lâm mîm adalah satu huruf, melainkan alif, dan lâm, dan mîm …" (HR Al-Hakim dan Ibn Syaibah)

Jadi siapapun yang ingin menyelami gelombang samudera Al-Qur`an untuk mengeluarkan mutiara-mutiara keyakinan dan 'irfan, maka ia harus lebih dulu berpegang pada hukum-hukum syariat cabang (furu’iyah) yang digali oleh para Pemilik Tekad yang Benar (arbab al-‘azaim ash-shahihah), dari pengertian lahiriah ayat-ayat Al-Qur`an. Tujuannya adalah agar ia dapat menangkap aspek lahiriah dari para Ashhâb al-Yaqazhah (para Pemilik Kesadaran) dari kalangan Ahl ath-Thalab wa al-Irâdah (salik) agar jiwa mereka siap melakukan semua itu, dan batinnya menjadi jernih, sehingga aliran dari Lautan Tauhid dapat mengalirinya.

Ketika itu terjadi, maka ia akan siap menjadi tempat bagi sang Penguasa Kerinduan dan Cinta (Sulthân al-'Isyq wa al-Mahabbah). Kerana perlindungan bagi inti tauhid tidak lain adalah berupa hukum-hukum syariah dan adab thariqah bagi para salik yang bergerak menuju hakikat melalui suluk dan mujahadah.

Adapun berkenaan dengan para budalâ` (para wali abdâl) yang selalu tenggelam dalam Lautan Dzat dan terpesona oleh penglihatan pada keindahan Ilahi, yaitu mereka yang fana` di dalam Allah secara mutlak – sehingga "mereka" adalah "Dia" dan "Dia" adalah "mereka" - maka kita dan mereka berada pada posisi masing-masing, sehingga kita tidak layak membicarakan tentang mereka. Semoga Allah menjadikan kita termasuk para pelayan dan debu di kaki mereka.

Wahai murid yang bertekad menempuh suluk jalan fana` dengan tekad yang kuat, dalam tekadmu ini engkau terlebih dulu harus menjernihkan sirr dan isi kalbumu dari segala bentuk tawajuh kepada yang selain al-Haqq. Engkau juga harus menjadikan tuntutan dan maksudmu hanyalah untuk tenggelam (istighrâq) dan fana (fana`) di dalam Lautan Keesaan.

Semua ini sama sekali tidaklah mudah bagimu, kecuali jika kau berhasil menghancurkan bahtera dirimu yang batil. Tapi untuk menghancurkannya pun tidaklah mudah bagimu, kecuali jika kau melakukan riyadhah yang berat, dalam bentuk lapar, haus, begadang pajang, pemutusan semua kelezatan inderawi dan syahwat nafsu untuk kemudian beralih kepada kelezatan cinta, fana, sabar terhadap bala, dan ridha atas semua ketetapan Allah yang kau alami. Jika kau berhasil mewujudkan semua ini di dalam dirimu, niscaya dirimu akan melemah dan bahteramu akan melamban. Pada saat itu, engkau akan mudah untuk menghancurkannya, cukup dengan kau berdiri di atasnya.

Ya Allah, Ya Tuhan kami. Dengan kelembutan-Mu, hiasilah lahiriah kami dengan syariat-Mu; hiasilah batiniah kami dengan hakikat-Mu; hiasilah hati kami dengan musyahadah-Mu; hiasilah arwah kami dengan mu'ayanah-Mu; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala yang Engkau kehendaki, dan Engkau layak menjadi tumpuan harapan orang-orang yang beriman.”


[ Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Tafsir Al-Jailani ]


Tuesday, July 8, 2014

MENGENAL THARIQAT DALAM ISLAM

Pengertian Thariqat

Thariqat menurut bahasa artinya jalan (way), cara (methode), suatu sistem kepercayaan (system of belief), garis, kedudukan, dan agama.

Adapun Thariqat menurut istilah ulama' Tasawwuf di antaranya sebagai berikut :

1. Thariqat adalah suatu jalan untuk menuju kepada Allah dengan mengamalkan ilmu Tauhid, Feqah, dan Tasawwuf.


2. Thariqat adalah cara atau kaifiat mengerjakan sesuatu amalan untuk mencapai sesuatu tujuan.

Berdasarkan beberapa definisi tersebut di atas baik menurut bahasa ataupun menurut istilah ulama' Sufi, maka jelaslah bahwa thariqat adalah suatu jalan atau cara untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan mengamalkan ilmu Tauhid, Feqah dan Tasawwuf.

Atau thariqat ialah suatu sistem (metode) untuk menempuh jalan yang pada akhirnya mengenal dan merasakan adanya Tuhan, dalam keadaan mana seseorang dapat melihat Tuhan dengan mata hatinya (ainul bashirah). Sebagaimana pertanyaan Sayyidina Ali bin Abi Thalib كرم الله وجهه kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم : “Manakah thariqat yang sedekat-dekatnya mencapai Tuhan?" Dijawab oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم : Tidak lain daripada dzikir kepada Allah (dzikrullah).”

Oleh kerana thariqat adalah merupakan jalan atau cara untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka di dalam thariqat sebenarnya berisikan tentang riyadhah-riyadhah atau amalan-amalan yang harus dikerjakan dan bukan berisikan tentang ajaran yang mengkaji secara falsafi tentang tasawwuf. Namun demikian suatu thariqat yang diakui sah oleh ulama harus mempunyai lima dasar ; pertama, menuntut ilmu untuk dilaksanakan sebagai perintah Tuhan; kedua, mendampingi guru dan teman sethariqat untuk meneladani; ketiga, meninggalkan rukhsah dan ta’wil untuk kesungguhan; keempat, mengisi waktu-waktu dengan do’a dan wirid; dan kelima, mengekang hawa nafsu daripada berniat salah dan untuk keselamatan. Begitulah yang dijelaskan oleh Prof. H.Aboe Bakar Aceh dalam kitabnya yang berjudul “Pengantar Ilmu Thariqat”. Selain itu tentunya suatu thariqat harus berpandu kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, atau dengan kata lain harus tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Kemudian suatu thariqat dikatakan muktabarah maka thariqat tersebut harus memiliki silsilah (pertalian rohani) yang sampai kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, selanjutnya memiliki seorang mursyid (syeikh).


Landasan Al-Qur’an dan Hadits Tentang Thariqat

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah ayat 35).


Sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم : “Sembahlah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya dan jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat kamu.” (H.R. Muslim).

Berkata al-Muhaddits Syeikh Muhammad Siddiq Al-Ghumari رحمة الله تعالى : “Sesungguhnya Ihsan sebagaimana dalam hadits tersebut adalah ibarat dari tiga rukun yang disebutkan. Barangsiapa tidak menyempurnakan rukun Ihsan yang mana ia merupakan thariqat (jalan) maka tanpa ragu-ragu lagi bahwa agamanya tidak sempurna karena dia meninggalkan satu rukun dari rukun-rukunnya. Tujuan atau puncak yang diajarkan dan diisyaratkan oleh thariqat ialah maqam Ihsan setelah Islam dan Iman sempurna.” (Kitab : Intishar Li Thariqi as-Sufiyyah).

Berkata Syeikh al-Islam Zakaria al-Ansari رحمة الله تعالى : "Tasawwuf ialah suatu ilmu yang diketahui dengannya keadaan penyucian jiwa dan pembersihan akhlak serta memujahadahkan lahir dan batin bertujuan untuk mencapai kebahagiaan yang abadi." (Kitab : Ala Hamisy Risalah al-Qusyairi).

Berkata Imam Junaid al-Baghdadi رحمة الله تعالى : "Tasawwuf ialah menggunakan semua akhlak ketinggian yang terpuji dan meninggalkan semua tingkah laku yang rendah lagi keji." (Kitab : Nusrah al-Nabawiyyah).

Ulama'-ulama' muktabar Islam juga turut mengakui kebenaran thariqat tasawwuf ini dan ada di antara mereka merupakan pengamal thariqat di antaranya Imam Hanafi رحمة الله تعالى (Silakan rujuk kitab ad-Dur al-Mukhtar). Ini merupakan bukti yang kukuh lagi kuat untuk menyatakan bahawa thariqat adalah dibenar dan diwajibkan serta bertepatan dengan Islam. Mana mungkin para ulama' muktabar yang begitu memahami dan mendalami Islam mengamalkan thariqat tasawwuf jika ia sesuatu yang sesat dan bid’ah.

Berkata Imam Syafi'i رحمة الله تعالى : "Disukai bagiku dari pada duniamu tiga perkara : Meninggalkan perkara yang membebankan diri, dan bergaul sesama makhluk dengan lemah lembut, serta mengikuti jalan ahli tasawwuf." (Kitab : Kasfu al-Khafa Wa Mazilu al-Albas).

Adapun ahli tasawwuf yang sebenarnya tidaklah terlepas dari melaksanakan syariat Islam bahkan merekalah golongan yang selalu memperbanyak lagi amalan-amalan baik dengan berlipat-lipat kali ganda. Ini kerana tasawwuf dan thariqat itu sendiri terikat dengan al-Quran al-Karim dan al-Hadis صلى الله عليه وسلم sepertimana yang diterangkan oleh Imam Junaid al-Baghdadi رحمة الله تعالى : "Mazhab kami terikat dengan dasar al-Quran al-Karim dan as-Sunnah صلى الله عليه وسلم ." (Kitab : al-Tabaqat as-Sufiyyah).

Bagi pengamal thariqat tasawwuf Islam yang telah lama mahupun kepada yang baru berkenalan dengan thariqat, mungkin kata-kata dari Syeikh Abdul Qadir al-Jailani رضى الله عنه ini boleh dijadikan pedoman serta panduan : "Sesungguhnya meninggalkan ibadah fardhu adalah zindiq, melakukan yang haram atau yang dicegah adalah maksiat. Perkara fardhu tidak akan gugur daripada seseorang individu walau dalam apa jua keadaan sekalipun." (Kitab : al-Fathu ar-Rabbani). Jadi berdasar Syeikh Abdul Qadir al-Jailani walaupun sudah berada pada tingkat makrifat, harus tetap mengamalkan syari’at sebagaimana Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Inti dari ajaran thariqat adalah “dzikrullah” yang kaifiat atau cara-caranya diatur oleh Mursyid dari thariqat-thariqat tersebut.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa sebuah jemaah thariqat dipimpin oleh seorang pemimpin yang sering disebut sebagai Mursyid atau Syeikh. Tidak sembarang orang bisa menjadi pemimpin jemaah thariqat, kerana sebuah thariqat adalah sebuah jalan menuju pendekatan kepada Allah yaitu jalan yang mulia dan tidak main-main. Bila diibaratkan seorang pemimpin thariqat sebagai seorang pemandu, maka dia sesungguhnya tidak hanya bertanggungjawab untuk menyelamatkan para penumpangnya dari kecelakaan di jalan raya saja, tetapi lebih berat dari itu adalah menyelamatkan para pengikutnya dari kesesatan jalan yang akan membuat sengsara kelak dikemudian hari.

Bagi seseorang yang ingin masuk dalam anggota kelompok jemaah thariqat, langkah awal yang harus ditempuh adalah mengikat dan mengikrarkan sebuah janji setia kepada Mursyidnya, janji itu disebut dengan Bai’ah/Janji Setia. Dalam kesempatan itulah sang mursyid/syeikh menyampaikan amalan-amalan, wirid-wirid atau dzikir-dzikir yang menjadi pedoman bagi murid untuk berjalan menuju Allah سبحانه وتعالی.

Secara khusus, aliran-aliran thariqat, sebenarnya mempunyai tujuan yang sama, yang intinya adalah sebagai berikut :

1. Dengan mengamalkan thariqat berarti mengadakan latihan jiwa (riyadhah) dan berjuang melawan hawa nafsu (mujahadah), membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela dan diisi dengan sifat-sifat terpuji dengan melalui perbaikan budi pekerti dalam berbagai seginya.


2. Selalu dapat mewujudkan rasa ingat kepada Allah, Zat Yang Maha Besar dan Kuasa atas segalanya dengan melalui jalan wirid dan dzikir diiringi dengan muraqabah yang secara terus menerus dikerjakan.

3. Dari sini timbul perasaan takut kepada Allah sehingga timbul pula dalam diri seseorang itu suatu usaha untuk menghindarkan diri dari segala macam pengaruh duniawi yang dapat menyebabkan lupa dengan Allah.

4. Jika semua itu dapat dilakukan dengan penuh ikhlas dan ketaatan kepada Allah, maka tidak mustahil akan dapat dicapai suatu tingkat alam ma’rifat, sehingga dapat pula diketahui segala rahasia dibalik tabir Cahaya Allah dan Rasul-Nya secara terang benderang.

5. Akhirnya dapat diperoleh apa yang sebenarnya menjadi tujuan hidup ini.


Rukun, Ajaran, Prinsip Dan Hasil Thariqat

Di dalam kitab yang berjudul "Awarif al-Ma’arif" karya Syeikh Syihabuddin Umar Suhrawardi رحمة الله تعالى dijelaskan bahwa thariqat mempunyai berbagai rukun, ajaran, prinsip dan hasil, di antaranya :

1) Rukun-rukun thariqat adalah : Taubat, Kepasrahan (taslim), Kesetiaan pada thariqat (diyaanat), Kerendahan hati dan Ketundukan jasmani (khusyu’ wa khudhu’), Keredhoan (redho), Kemenyendirian (khalwat).
2) Ajaran-ajaran thariqat adalah : Ilmu (‘ilm), Kedermawanan (sakhaawat), Kedekatan kepada Allah (qurb), Agama (addiin), Meditasi atau renungan (tafakkur), Ketawakkallan kepada Allah (tawakkal).


3) Prinsip-prinsip thariqat adalah : Kebajikan (ihsan), Mengingat Allah (dzikr), Meninggalkan kemaksiatan (tark ma’ashi), Meninggalkan dunia (tark dun-ya), Takut kepada Allah (khaufullah), Cinta kepada Allah (hubbullah).
4) Hasil–hasil thariqat adalah : Pengetahuan Ilahi (ma’rifah), Kelembutan hati (hilm), Kesabaran (shabr), Ketaatan (tha’ah), Tata krama (adab), Ketulusan (shauq).



Saturday, November 17, 2012

ILMU THARIQAT DAN TASAWWUF

Dinaqal daripada kitab SIRRUS SALIKIN karangan bagi ulama’ yang sangat ‘Alim lagi ‘Arifbillah Asy-Syeikh Abdus Samad Al-Falimbani رحمة الله تعالى.
Juz 3 – Bab 1 - m/s 2-5

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :

“Bahawasanya di dalam jasad anak adam itu ada seketul daging. Apabila baik ia nescaya baik sekelian badan dan apabila binasa ia nescaya binasa sekelian badan. Ketahui olehmu iaitu HATI.”

Kata Imam al-Ghazali رحمة الله تعالى : Maka sungguhnya telah nyata dengan hadis Nabi صلى الله عليه وسلم ini bahawasanya asal kemuliaan manusia itu iaitu hati dan iaitu seperi raja yang diangkat di dalam alam jasad itu dan sekalian anggota yang zahir yang tinggal yakni yang lain daripada hati itu iaitu seperti tenteranya yang mengikut akan dia. (Dan ketahui) olehmu hai saudaraku yang menjalani akan jalan thariqat yang menyampaikan kepada makrifat akan Allah Taala yang sebenar-benar makrifat itu bahawasanya adalah ahli sufi memisalkan ia akan hati itu seperti raja dan memisalkan ia akan badan manusia itu seperti negeri tempat kerajaannya itu dan memisalkan ia akan segala anggota yang zahir itu tenteranya. 

(Dan) murad (*maksud) dengan anggota yang zahir itu iaitu seperti mata dan hidung dan telinga dan lidah dan tangan dan perut dan faraj dan kaki. (Maka) jikalau baik hati itu nescaya baik segala anggota yang zahir itu maka jikalau baik anggota yang zahir itu nescaya sempurna badan itu dan jikalau binasa hati itu nescaya binasa segala anggota yang zahir itu dan jikalau binasa anggota yang zahir hati itu nescaya binasalah segala badan itu. (Dan) murad dengan baik hati itu iaitu mengerjakan taat yang bathin dan menjauh akan maksiat yang bathin. (Dan) murad dengan baik anggota yang zahir itu mengerjakan taat yang zahir dan menjauh akan maksiat yang zahir. 

(Dan) murad dengan taat yang bathin itu iaitu segala sifat yang kepujian dan segala perangai yang baik seperti (IKHLAS) di dalam segala ibadat dan seperti (ZUHUD) yakni tiada sangat gemar kepada dunia dan seperti (WARA’) yakni meninggalkan segala yang haram dan segala syubhat dan seperti (SABAR) dan (SYUKUR) dan (TAWAKKAL) dan (MAHABBAH) dan (REDHA) dan barang sebagainya seperti yang lagi akan datang Insya-Allahu Ta’ala.

(Dan) murad dengan maksiat yang bathin itu iaitu segala sifat yang kejahatan dan dan segala perangai yang jahat seperti (RIAK) dan (‘UJUB) dan seperti (TAKBUR), sangat kasih kepada dunia dan (GHADAB) dan (HASAD) dan barang sebagainya seperti lagi akan datang Insya-Allahu Ta’ala. (Dan) murad dengan taat yang zahir itu iaitu seperti sembahyang dan puasa (dan) memberi zakat (dan) naik haji dan barang sebagainya. (Dan) murad dengan maksiat yang zahir itu iaitu seperti berzina (dan) meminum arak (dan) mencuri (dan) merampas (dan) membunuh orang (dan) mengumpat orang (dan) berdusta (dan) barang sebagainya.

(Soal) : Jika ditanyai orang akan dikau dengan apa membaikkan akan hati itu supaya baik dengan dia segala anggota yang zahir itu?

(Maka Jawab) olehmu bahawa membaikkan hati dengan mengamalkan ILMU THARIQAT yakni ILMU TASAWWUF dan membanyakkan Zikrullahu Ta’ala kerana tiada jadi baik hati itu melainkan dengan menjalani ilmu Thariqat ahli sufi yakni dengan belajar ilmu Thariqat kepada ahlinya serta mengamalkan akan dia dan serta mengambil Talqin Zikir dan Bai’ah kepada guru yang mursyid yang sampai silsilahnya itu kepada Nabi صلى الله عليه وسلم hingga kepada Jibril hingga kepada Hak Allah سبحانه وتعالی. Dan membanyakkan zikir yang diambil talqin zikir itu daripada gurunya itu dan serta mengerjakan ia akan segala aurad dan segala ratib yang diambilnya daripada gurunya itu.

(Dan lagi) tiada baik hati itu melainkan dengan belajar ilmu yang memberi manfaat seperti ilmu yang disebutkan oleh Imam al-Ghazali رحمة الله تعالى di dalam kitab “BIDAYATUL HIDAYAH” (dan) di dalam “MINHAJ AL ‘ABIDIN” dan di dalam “IHYA’ ‘ULUMUDDIN” dan seperti yang tersebut di dalam kitab yang faqir terjemahkan ini dan lainnya seperti segala ilmu Tasawwuf dan seperti yang tersebut di dalam kitab نفحات الألوهيه في سلوك طريقة المحمدية karangan bagi syeikh kita Sidi Syeikh Muhammad As-Saman wali Allah yang di Madinah al-Rasul. (Dan) dengan menjalani Thariqat ahli sufi ini menyampaikan ia kepada Allah Ta’ala yakni kepada makrifat akan Allah Ta’ala dengan makrifat yang sebenar-benarnya. (Dan) dengan makrifat akan Allah Ta’ala yang sebenar itu hasillah kemuliaan manusia dan kelebihan. 

(Dan) dari kerana inilah berkata Imam Ghazali رحمة الله تعالى di dalam “IHYA’ ‘ULUMUDDIN” dengan katanya : Maka kemuliaan manusia dan kelebihannya yang dengan dia melebih ia akan perhimpunan daripada segala makhluk itu iaitu dengan sebab bersedia ia bagi makrifat akan Allah Ta’ala yakni dengan sebab menjalani Thariqat yang menyampaikan kepada Allah Ta’ala yang iaitu di dalam dunia keelokkannya dan kesempurnaannya dan kemegahannya dan di dalam akhirat iaitu bekalnya dan pertaruhannya dan hanyasanya bersedia bagi makrifat itu dengan hatinya dan bukan dengan anggota yang zahir daripada beberapa anggotanya maka adalah hati itu iaitulah yang mengetahui dengan keadaan Wujud Allah Ta’ala dan segala Sifat-Nya Yang Qadim dan iaitulah beramal kerana Allah Ta’ala dan iaitulah yang menjalani kepada Allah Ta’ala dan iaitu yang menghampirkan diri kepada Allah Ta’ala dan iaitulah yang membukakan dengan barang yang pada Hadrat Allah Ta’ala dan hanyasanya segala anggota yang zahir itu mengikut bagi hati dan seperti khadamnya dan seperti pegawainya yang perbuat berkhidmat akan dia oleh hati dan yang diperamalkan akan dia oleh hati seperti mengamalkan oleh raja bagi segala hambanya seperti mengkhidmatkan oleh orang yang mempunyai rakyat bagi rakyatnya dan seperti mengamalkan oleh orang yang mempunyai pegawai bagi pegawainya itu. 

(Dan) lagi kata Imam al-Ghazali رحمة الله تعالى : Dan adalah hati itu iaitu yang maqbul (diterima) pada Allah Ta’ala apabila sejahtera ia daripada bimbang akan sesuatu yang lain daripada Allah Ta’ala dan adalah hati itu yang mahjub (terhalang) daripada Allah Ta’ala apabila jadi ia karam dengan bimbang akan yang lain daripada Allah Ta’ala dan adalah hati itu yang dituntut akan berbuat ibadat akan Allah Ta’ala dan iaitu yang di خطاب oleh Allah Ta’ala makrifat akan dia yakni yang disuruhkan oleh Allah Ta’ala dan iaitulah yang ditempelak Allah Ta’ala dan iaitu yang dimurkai oleh Allah Ta’ala jika تقصير pada berbuat ibadat dan iaitulah yang diseksa oleh Allah Ta’ala jika berbuat maksiat dan iaitu yang diberi bahagia oleh Allah Ta’ala dengan hampir daripada Hadrat Allah Ta’ala maka dapat kemenangan apabila disuci akan dia daripada segala kejahatan dan diberi celaka apabila dicemarkan akan dia dengan segala maksiat dan adalah hati itu yang berbuat taat pada hakikat bagi Allah Ta’ala dan hanyasanya hasil atas segala anggota yang zahir daripada segala ibadat itu sebab mesra daripada cahaya nur hati yang baik itu. 

Dan lagi adalah hati yang jahat itu asal segala maksiat kemudian maka mesra daripadanya kepada anggota yang zahir maka jadilah anggota yang zahir itu berbuat maksiat akan Allah Ta’ala kerana segala kejahatan anggota yang zahir itu bekas daripada hati yang jahat itu. (Dan sebab) itulah bersungguh-sungguh Masyaikh ahli sufi mengetahui akan ilmu bathin yang menyucikan akan hati daripada segala maksiat yang bathin iaitu ILMU TASAWWUF dan dinamakan ILMU THARIQAT dan dinamakan ILMU SULUK kerana tiada mengetahui akan kebaikkan hati dan jahatnya itu melainkan dengan mengetahui ilmu Tasawwuf itu dan barangsiapa mengetahui akan hatinya itu nescaya mengetahui ia akan nafsunya dan barangsiapa mengetahui akan nafsunya itu nescaya mengetahui ia akan Tuhannya (seperti) sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :

(من عرف نفسه فقد عرف ربه) 
Artinya : “Barangsiapa mengetahui akan nafsunya itu nescaya mengetahui ia akan Tuhannya.”

Yakni barangsiapa mengetahui akan hatinya nescaya mengetahui akan nafsunya dan barangsiapa mengetahui akan nafsunya itu nescaya mengetahui akan Tuhannya yakni barangsiapa mengetahui akan nafsunya itu bersifat dengan papa nescaya mengetahui ia akan Tuhannya itu bersifat dengan Kaya dan barangsiapa mengetahui akan nafsunya itu bersifat dengan hina nescaya mengetahui ia akan Tuhannya itu bersifat dengan Mulia dan barangsiapa mengetahui akan nafsunya bersifat dengan dho’if nescaya mengetahui ia akan Tuhannya bersifat dengan Kuat dan barangsiapa mengetahui akan nafsunya bersifat dengan lemah nescaya mengetahui ia akan Tuhannya bersifat dengan Kuasa. (Dan lagi) barangsiapa mengetahui ia akan nafsunya itu fana nescaya mengetahui ia akan Tuhannya itu bersifat dengan Baqa dan barangsiapa mengetahui ia akan nafsunya bersifat dengan hadath (baharu) nescaya mengetahui akan Tuhannya itu bersifat dengan Qadim dan barang sebagainya daripada segala sifat yang lawannya antara hamba dengan Tuhannya.


[ Alhamdulillah... telah terang dan nyata bahawa jalan untuk menyucikan hati dan seterusnya untuk makrifat dengan Allah Ta'ala hanya boleh dicapai dengan mengamalkan ilmu Thariqat dan Tasawwuf. ]


Saturday, October 13, 2012

Sebahagian Para Ulama’ Masyhur dan Muktabar yang Mengambil Tarbiah Thariqat Sufiyyah

Imam Abu Hanifah رضى الله عنه

Imam Al-Haskafi Al-Hanafi رضى الله عنه berkata :

أن أبا علي الدقاق رحمه الله تعالى قال: (أنا أخذتُ هذه الطريقة من أبي القاسم النصر أباذي، وقال أبو القاسم: أنا أخذتها من الشبلي، وهو من السري السقطي، وهو من معروف الكرخي، وهو من داود الطائي، وهو أخذ العلم والطريقة من أبي حنيفة رضي الله عنه، وكلٌ منهم أثنى عليه وأقرّ بفضله..

Maksudnya :

“Abu ‘Ali Ad-Daqqaq رضى الله عنه (guru Imam Al-Qusyairi رضى الله عنه) berkata : “Saya mengambil thariqat (sufi) ini daripada Abi Al-Qasim An-Nasr Abazi رضى الله عنه”. Abu Al-Qasim berkata : “Saya mengambilnya (thariqat sufi) daripada Imam As-Syibli رضى الله عنه dan beliau (As-Syibli) mengambilnya dari Imam As-Sirri As-Saqati رضى الله عنه. Beliau (As-Sarri/As-Sirri) mengambilnya daripada Imam Ma’ruf Al-Karkhi رضى الله عنه dan beliau (Al-Karkhi) mengambilnya (thariqat sufi) daripada Imam Daud At-Tho’ie رضى الله عنه. Adapun Imam Da’ud At-Tha’ie mengambil ilmu dan thariqat (sufi) daripada Imam Abi Hanifah رضى الله عنه. Seluruh ulama’ tersebut memujinya (ilmu tasawwuf) dan mengakui kelebihannya.” [Ad-Durr Al-Mukhtar merujuk kepada Hasyiyah Ibn ‘Abidin: 1/43].

Imam Al-Haskafi رضى الله عنه berkata sebagai catatan terhadap hal tersebut dengan berkata :

فيا عجباً لك يا أخي! ألم يكن لك أسوة حسنة في هؤلاء السادات الكبار ؟ أكانوا مُتَّهمين في هذا الإِقرار والافتخار، وهم أئمة هذه الطريقة وأرباب الشريعة والحقيقة ؟ ومَن بعدهم في هذا الأمر فلهم تبع، وكل ما خالف ما اعتمدوه مردود مبتدع

Maksudnya : “Betapa anehnya wahai saudaraku! Bukankah contoh terpuji ada pada para ulama’ agung tersebut (yang mengambil tarbiah sufi)? Adakah mereka adalah golongan yang ditohmah pada pengakuan (terhadap keagungan ilmu tasawwuf) dan bermegah (dengan ilmu tasawwuf) sedangkan merekalah para imam thariqat (sufi) dan para pemimpin dalam ilmu syariah dan hakikat? Adapun orang yang setelah mereka (kaum sufi), maka kepada merekalah (para ulama’ sufi dahulu) mereka (kaum sufi sehingga hari ini) ikuti. Adapun orang yang bercanggah dengan pegangan mereka (ulama’ sufi terdahulu), maka dialah yang tertolak dan pelaku bid’ah.” [ibid].

Para ulama’ seperti Imam Ibn Mubarak رضى الله عنه, Imam Ahmad رضى الله عنه dan Imam Sufiyan At-Thauri رضى الله عنه turut memuji Imam Abu Hanifah رضى الله عنه sebagaimana disebut oleh Imam Ibn ‘Abidin رضى الله عنه dalam Hasyiyahnya terhadap kitab tadi. [ibid].


Imam Al-Harith bin Al-Asad Al-Muhasibi رضى الله عنه

Imam Az-Zahabi رضى الله عنه menceritakan tentang kecenderungan Imam Al-Muhasibi رضى الله عنه terhadap ilmu tasawwuf. Imam Az-Zahabi berkata :

صاحب المصنفات في التصوف والأحوال

“(Beliau) adalah empunya tulisan dalam ilmu tasawwuf dan ahwal.” [Al-‘Ibar 1/328].


Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali رضى الله عنه

Imam Al-Ghazali رضى الله عنه sememangnya seorang ulama’ sufi yang masyhur khususnya di marhalah akhir daripada usianya. Beliau mengarang banyak kitab dalam ilmu tasawwuf khususnya kitab Ihya’ 'Ulumuddin, Minhaj Al-‘Abidin, Minhaj Al-‘Arifin dan sebagainya.


Imam Ibn As-Sholah رضى الله عنه

Imam As-Suyuti رضى الله عنه meriwayatkan bahawasanya, Imam Ibn As-Sholah رضى الله عنه turut dipakaikan khirqah sufiyyah daripada Imam Abu Al-Hasan Al-Mu’ayyad bin Muhammad At-Thusi رضى الله عنه. [Ta’yiid Al-Haqiqah Al-‘Aliyyah 12-13].


Sultan Al-Ulama’ Imam Izzuddin bin Abdul Salam رضى الله عنه

Imam As-Suyuti رضى الله عنه meriwayatkan bahawasanya Imam Izzuddin رضى الله عنه mengambil pemakaian khirqah sufi daripada Imam As-Sahruwardi رضى الله عنه. [Husn Al-Muhadarah 1/273].

Malah, Imam Izzuddin bin Abdil Salam juga mengarang kitab Zubd Khulasah At-Tasawwuf, suatu kitab yang membahaskan ilmu tasawwuf secara mendalam.


Imam Ibn Al-Jazari رضى الله عنه

Beliau turut memakai khirqah sufi dan mengambilnya daripada ulama’ sufi. Beliau berkata dalam Manaqib Al-Asad Al-Ghalib :

وأما لبس الخرقة، واتصالها بأمير المؤمنين علي كرم الله وجهه، فإني لبستها من جماعة، ووصلت إلي منه من طرق رجاء أن أكون في زمرة محبيه، وجملة مواليه يوم القيامة

Maksudnya : “Adapun pemakaian khirqah (sufi) maka bersambung (sanad pemakaian khirqah) kepada Imam Amirul-Mu’minin Sayyidina Ali كرم الله وجهه, maka saya sendiri memakainya daripada beberapa ulama’ (sufi). Maka sampai pemakaian ini kepadaku daripada beliau (Sayyidina Ali كرم الله وجهه) dengan banyak jalan dengan harapan agar saya menjadi dalam kalangan golongan pencintanya (Sayyidina Ali كرم الله وجهه) dan dalam golongan pengikut-pengikutnya pada hari Kiamat nanti."

Beliau berkata lagi :

وللشيخ عز الدين المذكور في خرقة التصوف ثلاث طرق: أحمدية، وقادرية، وسهروردية

Maksudnya : “Di sisi Syeikh Izzuddin yang disebutkan tadi ada riwayat pemakaian khirqah tasawwuf (pakaian sufi) melalui tiga jalan (thariqat) sufi iaitu: thariqat Ahmadiyyah, thariqat Qadiriyyah dan thariqat Sahruwardiyyah.”

Beliau kemudian berkata :

وأجمع مشايخ التصوف على أن الحسن البصري صحب علي بن أبي طالب ولبس منه والله أعلم، وسألت شيخنا الحافظ إسماعيل بن كثير فقال: لا يبعد أنه أخذ عنه بواسطة، ولقيه له ممكن، فإنه سمع عثمان بن عفان

Maksudnya : "Telah bersepakat para ulama’ tasawwuf bahawasanya Imam Al-Hasan Al-Bashri رضى الله عنه bersahabat dengan Sayyidina Ali كرم الله وجهه lalu mengambil pemakaian khirqah daripada Sayyidina Ali كرم الله وجهه, wallahu a’lam. Maka saya bertanya sendiri guruku Al-Hafiz Isma’il bin Kathir رضى الله عنه maka beliau berkata: “Tidak mustahil juga kalau beliau (Imam Hasan Al-Bashri رضى الله عنه) mengambil pemakaian khirqah daripada Sayyidina Ali كرم الله وجهه dengan seorang perantara. Namun, pertemuannya (Imam Hasan Al-Bashri رضى الله عنه) dengannya (Sayyidina Ali كرم الله وجهه) suatu yang mumkin (boleh berlaku). Ini kerana, Imam Hasan Al-Bashri رضى الله عنه meriwayatkan hadith daripada Sayyidina Uthman bin Affan رضى الله عنه." [boleh rujuk kitab beliau Manaqib Al-Asad Al-Ghalib tentang manaqib Sayyidina Ali bin Abi Thalib كرم الله وجهه].


Imam Az-Zahabi رضى الله عنه

Imam Az-Zahabi رضى الله عنه turut memakai khirqah (pakaian simbolik bagi kaum sufi yang bersambung silsilah pemakaiannya) sebagaimana perkataan beliau :

ألبسني خرق التصوف شيخنا المحدث الزاهد ضياء الدين عيسى بن يحيى الأنصاري بالقاهرة وقال ألبسنيها الشيخ شهاب الدين السهروردي بمكة

“Syeikhna Al-Muhaddith Az-Zahid Dhiya’uddin Isa bin Yahya Al-Anshari رضى الله عنه memakaikanku pakaian khirqah tasawwuf di Kaherah. Lalu, beliau berkata : “Syeikh Syihabuddin As-Sahruwardi رضى الله عنه memakaikanku khirqah tasawwuf di Makkah…” [As-Siyar 22/377].

Imam Az-Zahabi رضى الله عنه turut menceritakan tentang Imam As-Sahruwardi رضى الله عنه dengan berkata :

الشيخ الامام العالم القدوة الزاهد العارف المحدث شيخ الاسلام أوحد الصوفية

Maksudnya : “(Beliau ialah) Syeikh Al-Imam Al-‘Alim Al-Qudwah Az-Zahid Al-‘Arif Al-Muhaddith Syeikhul Islam seorang Sufi yang hebat…” [Siyar pada menterjemahkan manaqib Imam As-Sahruwardi].


Imam Al-‘Iraqi رضى الله عنه

Imam Al-Iraqi رضى الله عنه merupakan guru kepada Imam Ibn Hajar Al-Asqollani رضى الله عنه. Imam Al-‘Iraqi memakai khirqah daripada sebahagian ulama’ sufi, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ibn Hajar رضى الله عنه.

Antaranya, Imam Imam Al-‘Iraqi رضى الله عنه mengambil pemakaian khirqah daripada Imam Majduddin At-Tabari رضى الله عنه [Ad-Durar Al-Kaminah 1/204] dan juga daripada Imam Muhammad bin ‘Atho’illah Al-Iskandari As-Syadzili رضى الله عنه [Ad-Durar Al-Kaminah 2/180].


Imam Ahmad bin Muhammad Al-Qostollani رضى الله عنه

Imam Ibn Hajar رضى الله عنه berkata :

ولبس الخرقة من جدته عائشة بنت الشيخ قطب الدين القسطلاني

Maksudnya : Beliau memakai khirqah (sufi) daripada neneknda beliau ‘Aisyah binti Sheikh Qutubuddin Al-Qostollani. [Ad-Durar Al-Kaminah: 1/101].


Imam Ibn Kathir رضى الله عنه

Imam As-Sofadi رضى الله عنه meriwayatkan kesufian Imam Ibn Kathir رضى الله عنه yang mengambil thariqat Syadziliyyah. [Al-Wafi fi Al-Wafiyyat 21-141].


Imam An-Nawawi رضى الله عنه

Imam Al-Nawawi رضى الله عنه memang terkenal sebagai seorang ulama’ beraqidah Ahlus-Sunnah Al-Asya’irah dan juga seorang sufi. Beliau mengarang kitab bernama “Maqosid At-Tasawwuf” dalam menjelaskan pendirian beliau terhadap ilmu tasawwuf dan kesufian.


Syeikhul Islam Imam Zakaria Al-Anshori رضى الله عنه


Beliau terkenal bukan sahaja sebagai ulama’ fiqh mazhab As-Syafi’e, malah beliau juga dianggap sebagai ulama’ sufi yang agung. Beliau juga tidak terlepas daripada tradisi memakai khirqah yang diambil daripada para ulama’ sufi. Antara mereka yang memberi pemakaian khirqah sufi kepada Imam Zakaria رضى الله عنه adalah : Syeikh Abu Al-Abbas Ahmad bin Ali Al-Atakawiy رضى الله عنه, Syeikh Abu Al-Fath Muhammad bin Abi Ahmad Al-Ghizzi رضى الله عنه, Syeikh Abu Hafsh Umar bin ‘Ali رضى الله عنه, Syeikh Ahmad bin Al-Faqih Ali Ad-Dailami رضى الله عنه (Ibn Az-Zalbani), Syeikh Zainuddin Abdullah bin Ali Al-Khalil رضى الله عنه dan sebagainya (mereka semua adalah ulama’ mazhab Syafi’e). [rujuk Al-Kawakib As-Sayyarah oleh At-Tamimi dan Ad-Dhau’ Al-Lami’e oleh Sheikh Syamsuddin As-Sakhawi 2/250].


Imam As-Sakhawi رضى الله عنه


Beliau berkata dalam menceritakan beberapa ulama’ agung sangat menitik beratkan pemakaian khirqah dalam Al-Maqasid Al-Hasanah [331] antaranya Imam Ad-Dailami رضى الله عنه, Imam Az-Zahabi رضى الله عنه, Imam Al-Hikari رضى الله عنه, Imam Abu Hayyan رضى الله عنه, Imam Al-‘Ala’ie رضى الله عنه, Imam Al-‘Iraqi رضى الله عنه dan sebagainya. Lalu beliau sendiri menjelaskan bahawasanya dirinya sendiri memakai khirqah sufi daripada sebahagian ulama’ sufi dalam kitab tersebut.


Imam As-Suyuti رضى الله عنه


Imam As-Suyuti رضى الله عنه juga seorang ulama’ sufi yang agung di samping kemasyhuran beliau dalam bidang fiqh, hadith dan tafsir. Beliau mengarang banyak risalah membela ilmu tasawwuf dan masalah-masalah kesufian. Malah, beliau mengarang kitab khusus membela keagungan thariqat Syadziliyyah yang diberi nama “Ta’yiid Al-Haqiqah Al-‘Aliyyah”.


Tuesday, October 9, 2012

Cahaya Allah

Tasawwuf Islam adalah intipati keharuman yang terdapat dalam seluruh adab Islam; inti segala fadhilat dalam sifat-sifat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan pengajaran baginda yang mulia. Itulah semua pengajaran yang baik serta suci yang dikerjakan bersama oleh akal dan ruh sama seiring beratnya.

Tasawwuf Islam adalah Nur, iaitu cahaya Allah yang menerangi seluruh langit dan bumi alam ini.

Dr Muhammad Al-Bahi menulis dalam kitabnya, al-Janibul Ilahi minat-Tafkiril Islami (Perkembangan pemikiran umat Islam terhadap Ketuhanan Allah) beliau kaitkan Surah an-Nur : 35 yang isinya memperkatakan tentang cahaya Allah yang menerangi langit dan bumi ;

"Allah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahayanya laksana sebuah misykat yang di dalamnya ada lampu. Lampu itu di dalam sebuah kaca. Kacanya itu laksana bintang yang bergemerlapan (bercahaya-cahaya), dipasang dari sebatang kayu yang beroleh berkat, iaitu (minyak) pohon zaitun - tidak timur dan tidak barat; hampir saja minyaknya itu bernyala-nyala walaupun ia belum pun disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah menunjukki siapa yang dikehendaki-Nya kepada cahaya-Nya itu. Demikianlah Allah memberikan perumpamaan bagi sekelian manusia, dan Allah Maha Mengetahui dengan setiap sesuatu."


Menurut huraian Ibnu Sina bahawa kata langit dan bumi itu mencakup sekelian alam ini selaras dengan tahap pemikiran manusia.

Cahaya Allah atau agama Allah, iaitu petunjuk Allah سبحانه وتعالی itu ibarat lampu di dalam lampu. Lampu luar itu misykat, sementara lampu dalamnya ialah lampu yang memakai kaca, sehingga ia tidak mungkin mati ditiup angin. Kaca lampu itupun sebelum dipasang lampunya sudah bersinar-sinar mengerlap kerana bahannya yang sedemikian indah ibarat bintang yang sentiasa berkerlipan cahayanya.

Minyak lampu itu pula terdiri daripada minyak pohon zaitun, di mana pohon itu pula ditanam di suatu tempat yang tidak terlindung daripada cahaya waktu pagi dan petang. Jadi, hasil minyaknya banyak dan berkualiti jauh berbeza dengan pohon yang terlindung dengan hasil minyak yang kurang dan rendah nilainya. Maka cahaya yang dipancarkan daripadanya amat terang dan bersinar.

Kemudian, minyak itu setelah diletakkan dalam lampu dan belum pun dipasang sudah mengeluarkan cahaya yang indah. Jelasnya, ada dua bahan yang bercahaya-cahaya sebelum lampu itu dipasang; iaitu kaca dan minyaknya. Jadi apatah pula tatkala lampu itu dipasang menjadikan tiga cahaya bercantum menjadi satu. Dan lampu itu pula memakai pelindung yang tidak dapat dihembus oleh angin - tidak rosak oleh gangguan luar dan tidak ada cahaya lain yang akan menggugat kegemilangannya.

Demikian cahaya Allah yang menerangi langit dan bumi; cahaya di atas cahaya. Perumpamaan ini diberikan Allah سبحانه وتعالی bagi sekelian manusia biar mereka mengerti akan hakikat cahaya Allah, iaitu agama Islam ini.


Saturday, October 6, 2012

Awan Nafsu dan Khayalan Akal Menutupi Nur Makrifat

Firman Allah :
“Dan pada dirimu itu, mengapakah kamu tidak melihat (tanda-tanda dan bukti kebesaranNya)?” (Adz-Dzaariyaat : 21)

Awal agama adalah mengenal Allah, awal mengenal Allah adalah mengenal diri. Kata ‘arifbillah : “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka mengenal ia akan Tuhannya. Sesiapa yang mengenal Allah, maka binasalah (fana) dirinya.”


Firman Allah di atas sebagai pembuka segala rahsia dalam rahsia. Hanya Allah wajibal wujud dan Dia wujud pada DzatNya. Adapun sekelian wujud yang lain bukan wujud pada dzatnya, tapi wujudnya diwujudkan oleh Allah. Makhluk diwujudkan Allah untuk menunjukkan sifat Keagungan dan KebesaranNya.

Firman Allah dalam hadis Qudsi :


كنت كنزا مخفيا فأردت أن أعرف فخلقت الخلق ليعرفوني

“Aku adalah ‘Kanzun Mahfiyyan’ (yang terpendam dan tertutup). Aku ingin ditemukan dan dikenali. Kuciptakan makhluk agar mereka mengenalKu.”

Makhluk dan diri kita tiada lain melainkan ayat-ayat Allah untuk menunjukkan DiriNya. Pada kita Dia menunjukkan wujudNya, menunjukkan SifatNya, menunjukkan Asma’Nya dan menunjukkan Af’alNya. Maka barangsiapa yang melihat dirinya dan alam tanpa melihat ‘wajah Allah’, mereka adalah golongan yang terdinding dengan waham (kegelapan awan nafsu dan khayalan akal).

Mereka adalah golongan yang syirik dalam penglihatan, pendengaran, sentuhan, pemikiran dan perasaan apabila hal tersebut tiada berhubung atau bertali simpul dengan Allah. Melihat diri dan alam tanpa melihat ‘wajah Allah’ bersamanya adalah jahil murakab; Yakni jahil pada Tuhannya, tiada mengenal Ketunggalan sifat Allah dan jahil pada dirinya yakni tiada mengenal hak pada dirinya!

Firman Allah :


“Dimana kamu hadap di situlah wajah Allah سبحانه وتعالی.” (Al-Baqarah : 115)

Berkata Syeikh Ibnu ‘Athaillah Askandary رضى الله عنه dalam Syarah Hikam :

“Bagaimana dapat dibayangkan bahawa sesuatu itu mendindingkanNya sedangkan Dialah jua yang menzahirkan tiap-tiap suatu daripada tiada kepada ada.”

“Bagaimana dapat dibayangkan bahawa sesuatu itu mendindingkanNya sedangkan Dialah yang telah zahir dengan tiap-tiap sesuatu.”

“Bagaimana dapat dibayangkan bahawa sesuatu itu mendindingkanNya sedangkan Dialah jua yang telah zahir dalam tiap-tiap sesuatu dengan KudratNya dan dengan KeagunganNya daripada segala SifatNya.”


La ilaahaa illaLlah wahdahu laasyariikalah…Tiada tuhan melainkan Allah dan tiada sekutu yang lain disisiNya!

Hak jasad adalah kaku terbujur yang tiada dapat berfungsi apa-apa walaupun ada mata, telinga, mulut, hidung, tangan, akal dan hati. Ia tidak dapat menepis walau seekor lalat atau nyamuk jika hinggap padanya. Ia bisu, buta, pekak, tiada bernafas, bodoh, lemah dan tiada kehendak. Tiada siapa mahu menyimpan jasad kaku ini dalam rumah walaupun di kalangan ahli keluarga yang amat menyayanginya.
Jasad adalah sarung untuk diri kita (ruh) di alam dunia ini. Diri kita telah beribu tahun di alam ruh memuji dan memandang Allah mengikut kadar yang diizinkan. Maka sampai saat Allah mahu diri kita melihat dan memujinya di alam zahir, maka diri kita dimasukkan dalam sarung badan manusia dari pelbagai jenis keturunan yang berlainan warna kulit, bentuk badan dan sebagainya.

Diri kita di alam ruh telah mengenal Allah dengan pandangan yang dibuka secara kasyaf dan memuji Allah dengan Nur Allah. Diri kita (ruh) juga adalah kaku, tiada baginya sifat melainkan Allah persifatkan ia dengan diperlihatkan, diperdengarkan, diperkalamkan, diperhidupkan, diperkehendakkan, diperilmukan dan diperkuasakan tanpa alat zahir seperti mata, telinga dan lainnya. Apabila ia dimasukkan dalam sarung badan manusia, maka segala alat anggota badan berfungsi dengan kadar yang ditentukan sesuai di alam zahir pula. Tiada tujuan lain kita dimasukkan dalam badan yang lengkap dengan alat-alat tersebut melainkan agar tetap bertauhid dan bertasbih padaNya.

Firman Allah :

"Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk mengabdikan diri kepada-Ku." (Adz-Dzaariyaat : 56)

Kita diperintah mentauhidkan DiriNya dalam pandangan, dalam pendengaran, dalam pernafasan, dalam rasa, dalam sentuhan dan dalam gerak diam.

Firman Allah :


“… Maka ke mana pun kamu menghadap disitulah wajah Allah.” (al-Baqarah: 115)

“Dan Allah bersama kamu di mana sahaja kamu berada.” (al-Hadid : 4)

“Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat." (as-Shofat : 96)

Begitu juga kita diwajibkan mentauhidkan DiriNya dalam perbuatan yang merangkumi aspek kesyumulan kehidupan insan sama ada dalam ibadah, pendidikan, perubatan, pekerjaan, perniagaan, makan dan minum, perkahwinan, politik, perundangan, hiburan, pergaulan, akhlak, budaya dan lainnya.
Namun apabila diri kita berada dalam badan, segala makrifat kita telah terdinding oleh dua daging iaitu daging pada kepala (otak) dan daging pada sebelah kiri (jantung). Pada otak dinamakan akal dan pada jantung dinamakan nafsu. Akal membawa kita kepada ketuhanan logik (Muktazilah) dan nafsu mengajak kita kepada ketuhanan diri (Qadariah).
Segala maklumat Alam Ruh, Alam Jabarut dan Alam Malakut tersimpan kukuh dalam sirr sanubari setiap insan. Ia tiada hilang dan perlu dibuka kembali agar tiada tertipu dengan keindahan dunia dan mengingatkan kembali asal dirinya.

Al-Quran dan Hadis adalah cahaya yang memberi petunjuk bagi segala rahsia dalam rahsia. Ia memberi jawaban kepada persoalan dari mana asal manusia, apa tujuannya di alam ini dan ke mana mereka akan pergi selepas ini. Ia membuka rahsia alam di sebalik alam yang tiada dapat dicapai dengan akal manusia yang amat terbatas.

Bermula alam tiada, diciptaNya qalam, alam ruh, alam malaikat, alam jin dan syaitan, alam zahir, alam barzakh dan alam akhirat. Sesiapa yang berpegang dengan petunjuk keduanya (Al-Quran dan Hadis) dan memahami tafsiran keduanya mengikut jalan para ulama yang Haq, nescaya mereka akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.


Selawat dan salam pada HabibuLlah Rasulullah sallaLlahu alaihi wassalam!

Banyakkan selawat atas Nabi wahai saudaraku, cintai sunnahnya… dengannya kamu akan memiliki cahaya yang membuka pintu ketauhidan ihsan dan menanggalkan kekotoran syirik pada batinmu!



Petikan buku "ALLAH : SYARIAT DAN HAKIKAT"

Karya al faqir Walid Ibrahim Mohamad

Tuesday, September 18, 2012

Kewajipan Menuntut Ilmu Fiqh, Tauhid dan Tasawwuf (Thariqat)

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته



Berdasarkan pegangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah, menuntut Ilmu Fiqh, Tauhid dan Tasawwuf serta mengamalkannya adalah FARDHU AIN atas setiap mukallaf lelaki dan wanita. 

Ilmu Fiqh adalah berkaitan perlakuan2 serta ibadah2 serta muamalah zahir.
Ilmu Tauhid adalah berkaitan keimanan dan kepercayaan kepada Allah dan segala yang Ghaib.
Ilmu Tasawwuf adalah berkaitan penyucian hati, aqal dan ruh daripada segala kekotoran yang berunsur nafsu, dunia dan syaitan. 

Kebanyakan kita sedia maklum tentang2 ketiga2 Ilmu ini.  Tetapi apa yang ingin kita paparkan didalam kesempatan ini adalah kelemahan Ummat Islam pada zaman ini yang kebanyakannya abaikan Ilmu Tasawwuf yang menjadi nadi kesucian dan kekuatan diri.   Dalam ertikata penyemprnaan kepada kepada sifat2 Mu'min itu telah diabaikan.  

Mulai dari sekolah rendah hingga ke sekolah menengah dan akhirnya ke peringkat universiti kita diajar dengan berbagai bidang ibadah solat, puasa, zakat dll. Alhamdulillah.   Tetapi malang sekali sangat sedikit atau tiada langsung diajar tentang Ilmu tentang sifat2 nafsu, kebinasaan2 yang dihasilkan oleh nafsu2 kejahatan, kaedah2 memerangi nafsu dan syaitan yang merosakkan jiwa.  Sedangkan  penyucian jiwa ini adalah yang paling penting didalam kehidupan seorang yang beriman kepada Allah Ta'ala berdasarkan Firman Allah Ta'ala :



يَوْمَ لاَ يَنفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُونَ - إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
"Pada hari itu tiada berguna harta dan anak-pinak kecuali orang-orang yang datang mengadap Allah dengan hati yang selamat sejahtera (dari syirik dan penyakit munafik);" (Ash-Shuara 26; 89 ) 



Dan Sabda Nabi   صلى الله عليه وسلم :

"Sesungguhnya dalam tubuh jasad anak Adam itu ada seketul daging apabila baik ia, nescaya baiklah seluruh anggota tubuhnya dan apabila jahat ia nescaya jahatlah seluruh anggota tubuhnya. Ketahuilah! iaitulah Qalb. (hati).(Riwayat Bukhari).



Apa yang disebut didalam ayat2 diatas adalah berkenaan hati yang sejahtra, hati yang suci, hati yang bebas dari syirik dari semua bentuk mazmumah.  Hanya hati2 yang suci ini selamat dunia dan akhirat.

Untuk mendapat hati yang sejahtera daripada syirik khafi, bebas dari mazmumah - (sifat2 kekejian - tercela)  dan memperoleh sifat2 mahmudah yang terpuji seseorang wajib menuntut Ilmu Tasawwuf yakni Ilmu Thariqat dan mengamalkannya. 



بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته



Sebagaimana kita bicarakan sebelum ini bahawa menuntut Ilmu Fiqh, Tauhid dan Tasawwuf menjadi kewajipan ; Fardhu Ain atas setiap mukallaf lelaki dan wanita.  Serta mengamalkannya didalam kehidupan  tanpa memisah-misahkannya.  Kerana semua hukum2 yang terkandung didalam Fiqh, Tauhid dan Tasawwuf adalah bersumberkan Al-Qur’an Kitabullah dan Hadis Nabi                            .  
Kita lihat satu contoh bagaimana hubungan2 ini berlaku. Iaitu Ibadah solat yang dikerjakan setiap hari.

Apabila seseorang melakukan solat dengan mematuhi syarat2 dan rukun solat dengan sempurna sebagaimana terkandung didalam Ilmu Fiqh, maka sah solatnya dari sudut Fiqh dan terlepas dia dari taklif Syara’.   Tetapi dia belum terlepas dari hukum2 yang menyentuh batinnya.  Iaitu adakah dia khusyu’ didalam solatnya?  Adakah dia ria’ ketika solatnya? Adakah dia ‘ujub selepas solatnya?  Semua ini tidak diketahui oleh manusia lain, iaitu dari sudut fiqh dia selamat, tetapi pada pandangan Allah yang melihat pada hati dia belum selamat.   

Dalam ertikata lain seseorang wajib menyempurnakan syarat2 Fiqh dan pada yang sama wajib berusaha sedaya upaya memenuhi syarat2 batin.  Mengapa kita kata “wajib berusaha sedaya upaya” ?  Ini kerana kebanyakan kita akan menghadapi gangguan2 hati ketika solat.  Gangguan ini adalah daripada nafsu dan syaitan.  Maka wajib seseorang berusaha membenteras gangguan2 ini dengan berbagai cara yang diajarkan oleh Ulama2 Tasawwuf. 

Ini bermakna seseorang yang melakukan solat dengan sempurna pada fiqh tetapi pada masa yang sama ria’ ketika solatnya, iaitu perasaan ria’ yang dikekalkan didalam hati (ikhtiari) maka binasa solatnya.  Kerana ria’ adalah syirik khafi (syirik yang tersembunyi) yang wajib disingkirkan/ dibuang dari hati.   


Demikian juga seseorang yang mengerjakan solat wajib berusaha sedaya upaya khusyu didalam solatnya. Kerana khusyu didalam solat adalah isi kepada batin solat.  Seseorang yang mengerjakan solat sedangkan hatinya lansung lalai dari awal sampai akhir,  maka ini juga termasuk orang yang diancam dengan “neraka wail”.  

Sebagaimana kata Imam Hasan Basri  “Orang yang mengerjakan solat dalam keadaan lalai adalah ia lebih dekat kepada neraka”.   

Maksudnya adalah seseorang wajib berusaha sungguh2 agar tidak termasuk didalam golongan lalai didalam solat. Walaupun ia bukan perkara mudah, tetapi wajib berusaha sedaya upaya khusyu’ didalam solat. 

Disini kita lihat betapa pentingnya kita menuntut Ilmu Tasawwuf  dan amalkannya disamping Ilmu Fiqh agar segala Ibadah kita tidak sia2.  Jangan zahir kita nampak cantik sedangkan batin kita tercemar.  Kerana Allah Ta’ala tidak memandang kepada kecantikan rupa paras zahir tetapi batin yang tersembunyi. 

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته



Kita dapati pada zaman ini kebanyakan Ummat Islam hanya mengambil Fiqh sedangkan Tasawwuf diabaikan.  Apa puncanya?

Sebahagian besar Ummat Islam masih keliru atau telah dikelirukan oleh fahaman bahawa Tasawwuf adalah untuk orang2 tertentu.  Ada juga yang mengatakan Tasawwuf adalah sebagai amalan sampingan untuk mendapat kelebihan bukan sebagai kewajipan.   Berbagai pendapat ini dan banyak lagi pendapat lain adalah bertentangan sama sekali dengan apa yang dinyatakan oleh seluruh Ulama2 Mu'tabar.  


1) Kewajipan menyucikan hati dari berbagai penyakit syirik, nifaq dan  sifat2 mazmumah  serta menghiasinya dengan Iman, Taqwa dan   sifat2 Mahmudah  sebagaimana yang dihuraikan di dalam Tasawwuf adalah berdasarkan banyak bukti2 didalam Al_Qur'an dan Hadis Nabi. Diantaranya :

Firman Allah :

يَوْمَ لاَ يَنفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُونَ - إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

"Pada hari itu tiada berguna harta dan anak-pinak kecuali orang-orang yang datang mengadap Allah dengan hati yang selamat sejahtera (dari syirik dan penyakit munafik);" (Ash-Shuara 26; 89 )



Dan Sabda Nabi   صلى الله عليه وسلم :

"Sesungguhnya dalam tubuh jasad anak Adam itu ada seketul daging apabila baik ia, nescaya baiklah seluruh anggota tubuhnya dan apabila jahat ia nescaya jahatlah seluruh anggota tubuhnya. Ketahuilah! iaitulah Qalb. (hati).(Riwayat Bukhari).

2) Ilmu Tasawwuf adalah sebahagian syariat Nabi yang dihimpunkan oleh Ulama2 berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah. Ianya mengandungi hukum2 haram dan halal yang menyentuh batin/kelakuan hati  manusia.    

Contohnya :  Hasad, jahat sangka,  takabbur ujub, ria'   adalah termasuk perkara2 yang diharamkan pada hati.   Sesiapa yang ada sifat2 ini, WAJIB membuangnya segera.....bukan sebagai sunnat atau menuntut kelebihan.  Hal ini didasarkan kepada perintah Allah dan Hadis2 Nabi yang soheh.   Umpamanya TAKABBUR adalah antara sifat Iblis yang sangat tercela yang diharamkan.   


Rasulullah shalallahu      صلى الله عليه وسلم      bersabda:

Tidak akan masuk syurga barang siapa di dalam hatinya terdapat setitik kesombongan.
(Muslim)



Maka WAJIB setiap mukallaf menyucikan batinnya daripada sifat takabbur ini. Demikian halnya sifat2  kekejian yangn lain wajiblah atas kita menyucikannya. Kerana semua sifat2 ini bukan saja merosakkan amal bahkan lebih buruk daripada itu menjadi sebab kemurkaan Allah Ta'ala serta menjadi sebab dicampakkan kedalam neraka.   


3) Seluruh Ulama2 Mu'tabar telah bersepakat bahawa menuntut dan mengamalkan Tasawwuf adalah Wajib Aini atas setiap mukallaf lelaki dan wanita.  Di sini kita kemukakan beberapa keterangan Ulama2 Mu'tabar.

Kata Imam Malik رضي الله عه :

" Fiqh tanpa Tasawwuf adalah Fasiq.  Tasawwuf tanpa Fiqh adalah zindiq.  Menghimpun antara keduanya itu yang haq"  
Kata2 ini telah disepakati oleh seluruh Ulama Arifin walaupun dengan makna yang berbeza2 tetapi membawa kepada maksud yang sama.  Iaitu wajib menghimpunkan kedua2 Fiqh dan Tasawwuf.   Mengamalkan Fiqh semata2 tanpa disertai Tasawwuf membawa seseorang kepada menjadi Fasiq. Wal Iyazubillah. 



Berkata Imam Ghazali  رضي الله عه : 

“Sedangkan ilmu tentang qalbu dan mengenal penyakitnya, berupa iri dengki, ujub, dan riya’ serta semisalnya, “Adalah Fardlu ‘Ain”.


Syeikh Alaudiin Abidin dalam Al-Hadiyyatul ‘Alaiyah, mengatakan, 

“Sudah jelas nash-nash syariah, dan Ijma’ Ulama, atas haramnya dengki dan penghinaan terhadap sesama muslim, serta hasrat kebencian terhadap mereka. Begitu pula haram, takabur, ujub, riya’ dan munafiq, serta sejumlah hal-hal kotor dalam hati, bahkan pendengaran, mata dan hati kelak akan dimintai pertanggungjawaban, hal-hal yang pada dasarnya di bawah ikhtiar manusia.


Ibnu Abidin dalam catatannya : 

“Mengenal Ikhlas, Ujub, Riya’, Dengki, adalah fardlu ‘ain, begitu juga mengenal penyakit-penyakit jiwa seperti sombong,  dendam, menipu, marah, membuat permusuhan, dendam, tamak, bakhil, boros,  pengkhianatan dan wah-wahan, sombong terhadap kebenaran, pengkhianatan, keras hati dan panjang angan-angan, dan sebagainya merupakan penyakit hati, yang dibedah dalam seperempat kitab bab perilaku yang menghancurkan, oleh Al-Ghazaly dalam kitab Al-Ihya’ disebutkan, “Sudah tidak ada alasan lagi untuk menolak, seharusnya siapa pun mempelajari penyakit-penyakit itu sebagai kewajipan.”  (Hasyiyah Ibnu Abidin)


Banyak lagi kata2 Ulama Mu'tabar yang semunya menunjukkan akan kewajipannya mengamalkan Tasawwuf dan larangan meninggalkannya.